<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630</id><updated>2011-12-14T18:42:43.810-08:00</updated><title type='text'>Konsultasi Keluarga Muslim</title><subtitle type='html'>berbagi suka...duka...luka...kecewa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-946235057415719470</id><published>2007-03-13T21:58:00.000-07:00</published><updated>2007-03-13T22:07:14.853-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Assalamualaikum Wr.Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seorang perempuan berusia 31 tahun, karyawati di salah satu perusahaan swasta.Saya mempunyai seorang kakak laki-laki kandung katakanlah si A dan seorang saudara sepupu laki-laki katakanlah si B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kecil (kira-kira berusia 6 tahun, si A kira-kira 13 tahun dan si B kira-kira 12 tahun), kami sering main bersama. Pada suatu hari, seperti biasa si A mengajak saya untuk berbuat yang tidak layak kami lakukan begitu juga dengan si B. Saya tidak mengerti, namun keluguan seorang bocah, saya turuti ajakannya dan kejadian itu berulangkali terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berusia 13 tahun saya baru paham dengan apa yang pernah saya lakukan bersama si A dan si B.Astagfirullah, betapa menyesal dan berdosanya saya. Melalui sinar matanya dan tingkah lakunya, saya yakin, si A dan si B juga sangat menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu saya jadi merasa pesimis, sensitif dan minder terutama di depan lawan jenis. Namun saya tetap berusah menampakkan wajah ceria di depan orang lain walaupun hati saya pedih rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi setelah itu saya berbalik, saya merasa untuk apa mempertahankan diri ini yang memang telah ternoda, saya mulai pacaran dan yang lebih ironisnya saya membiarkan saja setiap pacar saya menyentuh tubuh saya bahkan lebih dari itu kami sering melakukan hubungan seperti layaknya suami istri walaupun alat kelaminnya tidak sampai masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin seperti itu lagi, maka mulai tahun 2007 ini saya bertekad untuk memperbaiki diri, sulit rasanya tapi saya selalu berusaha. Sering muncul dipikiran bahwa hidup ini terasa tidak adil. Sayapun sering merasa iri dengan muslimah yang berjilbab, mereka bisa bangga dengan kesucian yang murni. Bagi saya berjilbab serasa menutupi sebuah aib. Saya ingin merahasiakan ini seumur hidup, terutama pada orang tua. Pertanyaaan saya :&lt;br /&gt;1.      Apa yang harus saya lakukan untuk memperkuat tekad saya untuk memperbaiki diri ?&lt;br /&gt;2.      Apakah boleh saya merahasiakan hal ini kepada kedua orang tua ?&lt;br /&gt;3.      Bagaimana dengan calon suami saya kelak, haruskah diberitahu ?&lt;br /&gt;4.      Apakah keperawanan penting dalam sebuah pernikahan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Candra Kirana&lt;br /&gt;kirana30@...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Pengasuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;Wassalamualaikum wr wb.,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mba Candra,&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa membimbing mba,&lt;br /&gt;Kejadian di masa kecil baik yang dilakukan secara disengaja atau tidak disengaja, bukanlah dosa, karena masa kecil (sebelum baligh) adalah kondisi dimana setiap orang dalam keadaan fitrah jadi semua perbuatan tidak akan Allah perhitungkan di yaumilakhir kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mba seharusnya tidak boleh merasa bersalah dan pesimis, yakinlah jika mba berniat baik untuk berada di jalan yang benar, maka Allah akan menolong dan membimbing mba, yakinilah itu semua....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meratapi nasib dan membiarkan diri hanyut serta membinasakan diri hanya akan menumpuk dosa dan menumpuk perasaan yang sangat bersalah. Biarlah yang sudah terjadi terjadilah, mulailah sekarang untuk menata kembal;i kehidupan mba dengan jalan yang benar, yang Allah restui. Hentikan dan cegahlah semua sikap dan perilaku dan hal-hal yang dapat membawa diri terseret dalam kehinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sebaiknya mba lakukan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulatkan tekad, mulailah untuk mendekatkatkan diri padaNya dengan cara melakukan ibadah ritual, rajinlah untuk sholat malam sampaikanlah semua keluh kesahmu padaNya. Mulailah bergaul dengan orang-oarnag yang sekiranya dapat mendekatkan diri mba denganNya, orang-orang yang senantiasa dapat memotivasi diri dan mengingatkan kita ketika kita salah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Biarlah yang sudah berlalu, berlalulah, lupakanlah. Memberitahukan orang tua hanya akan membuat mereka bersedih dan akan memupuk dendam, kebencian, dan penyesalan terhadap terhadap kakak dan sepupu mba, apalagi jika kejadian tersebut berlangsung ketika kalian masih sama-sama kecil dan kedua kakak mba pun menyesalinya. Anggap saja semua itu kecelakaan. Yang harus diperhatikan sekarang agar lkejadian serupa tidak terjadi pada anak-anak kita, cobalah untuk mengevaluasi mengapa kejadian tersebut bisa terjadi? Mungkinkan karena keterbatasan pengetahuan atau kurangnya pendidikan dan perhatian dari orang tua kita? Jadilah sebagai cermin untuk kehidupan mendatang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Memberitahukan calon suami, sebaiknya tidak detail. Mba tidak perlu menceritakan kejadian masa kecil mba, karena sama saja akan memupuk dendam dan kebencian, tapi ceritakanlah keadaan mba apa adanya, kalau mba bukan lagi wanita yang sempurna tetapi mba hanya wanita yang telah menyesali semua perbuatan yang sudah dilakukan dan sedang bertekad untuk menjadi wanita sholehah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Virginitas (keperawanan) bukanlah hal yang penting dalam sebuah pernikahan, tapi keperawanan (kesucian) hati dan ruhani kita yang jauh lebih penting dari apapun. Pernikahan dibangun atas dasar tekad untuk sama-sama menjalankan titah perintahNya, yakni membangun pondasi agama, menggapai ridhoNya, menyatukan kedua potensi agar bersinergi membangun dan menegakkan aturanNya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah Mba, tidak ada manusia yang sempurna...,semua orang sempat dan pernah berbuat salah. Manusia yang mulia adalah manusia yang selalu bertekad dan berusaha menjaga kebersihan ruhaninya. Sebagaimana Allah berfirman bahwa manusia yang mulia adalah manusia yang paling taqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dapat mencerahkan&lt;br /&gt;Pengasuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-946235057415719470?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/946235057415719470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=946235057415719470&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/946235057415719470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/946235057415719470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2007/03/assalamualaikum-wr.html' title=''/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-7449944495051733322</id><published>2007-03-13T21:49:00.000-07:00</published><updated>2007-03-13T21:56:57.560-07:00</updated><title type='text'>Keterbukaan Dalam Berrumah Tangga</title><content type='html'>&lt;p&gt;Assalamualaikum wr wb,&lt;br /&gt;Mas Indera,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sedang Mas lakukan dengan memiliki WIL (Wanita Idaman Lain) adalah salah dan berdosa, sebaiknya Mas cepat menyadarinya dan bertobat walaupun  isteri Mas nampak tidak sakit hati, tetapi mas telah berkhianat padaNya, pada isteri, pada komitmen yang sudah dibuat, pada suami WIL dan juga pada diri Mas sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah jawaban dari pertanyaan Mas Indera :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Isteri Mas, tidak memiliki kelainan (abnormal), namun perlu kiranya Mas tanyakan padanya mengapa sikapnya demikian, tidak seperti kebanyakan wanita lain. Perhatikanlah semua alasannya atau kalau perlu suruhlah ia bercerita tentang masa kecilnya, kehidupan keluarganya dan kenangan buruk di masa lalu. Jika ada cerita yang tidak biasa coba konsultasikanlah pada psikolog. Psikolog akan mendiagnosisnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam berumah tangga kita harus terbuka terhadap pasangan kita, namun untuk hal aib diri yang sekiranya akan membuat isteri marah dan tersinggung maka menyembunyikannya dan berusaha memperbaikinya bahkan akan bernilai ibadah dihadapanNya, namun tentunya dengan bersegera menghindari dan keluar dari kekeliruan/kesalahan yang dilakukan (bertaubat)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Prinsip yang Mas pegang perlu diluruskan, terbuka dalam menyampaikan perasaan Mas pada wanita lain sebenarnya akan menyakiti hati isteri manapun termasuk isteri Mas sendiri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cemburu adalah salah satu tandanya cinta, namun isteri yang tidak cemburu bukan berarti ia tidak mencintai, berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada  isteri Mas, bisa saja isteri Mas mencoba menyembunyikan perasaan yang sebenarnya agar terlihat tegar atau agar ingin memberikan rasa nyaman pada suami (padahal ia sangat menderita), namun untuk mengetahui apa yang sebenarnya isteri Mas pikirkan dan rasakan coba bicaralah dengannya, tanyakan pandangannya tentang kesetiaan, keterbukaan, cinta, cemburu dan banyak hal, sehingga kita bisa mengetahui bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Sikap Mas,  berilah ia keleluasaan untuk bercerita terus terang, apa adanya pada Mas, hormatilah setiap ungkapan-ungkapannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cobalah untuk saling mengungkap semua pandangan Mas dan isteri mengenai banyak hal, dan selaraskanlah semua harapan dan pandangan Mas dan isteri dengan tuntutan Rasulullah, sepakatilah bersama untuk berkomitmen dengan aturan Allah dan sunnah Rasulullah agar keluarga mas menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga menjadi solusi&lt;br /&gt;Wassalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengasuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-7449944495051733322?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/7449944495051733322/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=7449944495051733322&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/7449944495051733322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/7449944495051733322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2007/03/keterbukaan-dalam-berrumah-tangga.html' title='Keterbukaan Dalam Berrumah Tangga'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-117125846118555102</id><published>2007-02-11T21:28:00.000-08:00</published><updated>2007-02-11T21:34:21.473-08:00</updated><title type='text'>Istri berjilbab , tergiur pekerjaan yang membuka jilbab</title><content type='html'>Masalah ini sebetulnya sangat kompleks, namun saya singkatkan saja.&lt;br /&gt;Saya adalah seorang pria yang bekerja di salah salah satu institusi negara dalam bidang penegakan hukum, saya seorang moslim yang taat beragama, oleh karena itu saya memilih dulu calon istri yang dapat dibawa untuk dunia dan akherat, walaupun ada beberapa calon yang ada termasuk jodoh yg diberikan ortu ke saya, tapi saya tetap memilih istri saya yg sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami nikah tidak mendapat restru dari orang tua saya, mertua sih oke-2 saja krn waktu saya umur 25 saya begitu gagah dengan pangkat dan mempunyai jabatan yang strategis di institusi saya.  Namun dengan berjalannya waktu akhirnya kami mendapatkan seorang putri yang cantik sejalan itu pula ortu saya sudah mengiklaskan saya beristri saya ini, Alhamdulullah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun-2 pertama banyak sekali yang harus kami sesuaikan dengan latarbelakang kebiasaan dan atas pekerjaaan saya ini, tapi dikit demi dikit istri saya mulai memaklumi kondisi pekerjaan saya. Dulu beberapa masalah dapat kami selesai dengan baik, namun saat ini persoalan ini lain dari yang sebelumnya walaupun menurut saya ini hal mudah,.  Memang kondisi saya dan istri tidak sama, dulu saya oleh ibu dibiasakan hidup dengan sederhana karena ayah adalah seorang tentara, sehingga saya sangat mampu untuk dapat bertahan dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 2 tahun ini istri saya tidak jelas pekerjaan dan penghasilannya , semenjak, keluar dari perusahaan  yang membesarkan nya hingga menjabat districk manager tiba-tiba hilang dan ekonomi berubah menjadi pas-pasan.  Dulu ketika istri saya masih menjabat kita dapat  memenuhi kebutuhan dibilang berlebih, tapi saat sekarang cuma gaji saya sebagai pegawai negeri yang menjadi handalannya.Terus terang saya tidak mau berbuat seperti-2 teman-2 saya kebanyakan, bagi saya gaji adalah sudah cukup untuk memberi nafkah kepada anak-istri saya, saya tidak menginginkan istri saya makan dari uang-2 yang tidak halal, massya Allah naudzubilah mindzaalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun pertama istri menganggur tidak ada perubahan sikap-2 yang dapat menghacurkan  iman. namun saat ini setelah berjalan 3 tahun istri saya semakin depresi dan sekarang berencana melepas Jilbabnya untuk suatu pekerjaan yang sedikit menggiurkan . Nasehat hingga pemaksaan kepada istri saya , saya lakukan tapi berakhir dengan keributan hingga ucapan "talak " keluar.Akhir dari semua ini saya sangat menyesal karena bagaimanapun juga yang menjadi korban adalah anak saya, tapi istri saya sudah seperti itu "tidak dapat dikendalikan " dan sepertinya saya sudah tidak sanggup.Mungkin ada solusi dari  blogger ini, saya mohon bantuan pendapat atau nasehat. Demikian untuk menjadi maklum dan terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ary&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Pengasuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;Assalamualikum Wr Wb,&lt;br /&gt;Mas Ary yang budiman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi kesabaran dan ketawekalan atas kejadian yang menimpa keluarga Mas Ary, apa-apa yng sudah Mas Ary pertahankan dan lakukan selama ini baik di keluarga maupun yang berhubungan dengan pekerjaan merupakan jihad Mas ary kehadapan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian yang menimpa keluarga mas adalah cobaan dari Allah untuk menguji hambanya apakah ia masih istiqomah dengan sikapnya atau tidak, dan ternyata isteri Mas tidak cukup kuat untuk bisa menjalani cobaan tersebut. Yang Mas sudah lakukan sebagai suami untuk mencegah isteri membuka jilbabnya sudah benar, hanya saja mungkin isteri Mas belum faham benar tentang kewajiban untuk berjilbab dan hakikat berrumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;Berrumah tangga itu bukan hanya untuk kepentingan-kepentingan duniawi saja jauh lebih penting dari itu semua adalah membangun ruhani agar menjangkau keridhoan Allah, melahirkan generasi yang mampu menopang/ memperkuat perjuangan dalam mendhohirkan keridhoan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan harta, bukan hal besar yang harus kita kuatirkan tapi manakala kita kehilangan Iman, apa yang hendak kita bawa saat kita meninggal ? bukan harta yang kita kumpulkan tetapi ternyata keimanan, anak sholeh, amal sholeh kita.&lt;br /&gt;Yang perlu Mas ary lakukan sekarang adalah :&lt;br /&gt;1.      Jangan pernah bosan untuk terus mengingatkan isteri akan kekeliruannya walaupun respon yang diterima negatif, jangan terpancing emosi untuk melakukan tindakan, ucapan yang tidak seharusnya.&lt;br /&gt;2.      Karena Mas Ary sudah terlanjur mengatakan ’talaq’ dan kemudian menyesal telah mengucapkannya, minta maaflah sama isteri dan tarik kembali ucapan ’talaq’ tersebut. Sebelumnya tanyakanlah lebih dahulu sama isteri apakah ia masih mau membangun rumah tangga dengan Mas Ary? Apakah ia masih mau menjadi isteri Mas?&lt;br /&gt;3.      Jika Mas sudah rujuk kembali, dan isteri masih mau membangun rumah tangga dengan Mas Ary, cobalah untuk membuat komitmen, membuat kesepakatan-kesepakatan termasuk salah satunya tentang pekerjaan isteri.&lt;br /&gt;4.      Jika isteri tidak mau lagi untuk membangun rumah tangga dengan Mas Ary, berilah ia kesempatan untuk berpikir atas kekeliruannya, dan jika ia msih sama dengan keputusannya untuk tetap tidak mau rujuk kembali, ya apa boleh buat relakanlah. Semua keputusan yang Mas ambil akan selalu ada resikonya. Sekarang anggaplah Mas Ary terus bertahan membangun rumah tangga dengan isteri yang tidak ’taat’ pada suami, ini akan menjadi bumerang buat Mas di satu sisi nurani Mas akan selalu berontak untuk menentang keputusan isteri, di sisi lain Mas harus menjaga ketentraman rumah tangga demi anak, padahal sebenarnya semua itu bukan contoh yang baik untuk perkembangan mental dan pendidikan anak. Justeru dengan Mas bersikap istiqomah dengan keyakinan Mas, hal ini akan memberikan pendidikan dan teladan yang baik untuk anak, ia akan belajar benar-salah dari perilaku kedua orang tuanya. Selanjutnya jika sekali saja isteri tidak taat pada suami dan berani melanggar kewajibannya untuk menutup aurat, apa ada jaminan selanjutnya sang isteri tidak melakukan kesalahan dan pelanggaran lagi?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat dan bisa menjadi solusi&lt;br /&gt;Wassalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-117125846118555102?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/117125846118555102/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=117125846118555102&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/117125846118555102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/117125846118555102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2007/02/istri-berjilbab-tergiur-pekerjaan-yang.html' title='Istri berjilbab , tergiur pekerjaan yang membuka jilbab'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-117012754823213064</id><published>2007-01-29T19:25:00.000-08:00</published><updated>2007-01-29T19:25:48.373-08:00</updated><title type='text'>Tinggal bersama keluarga lain</title><content type='html'>Yth Pengasuh.&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum. Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji syukur kita panjatkan kekhadirat Allah Swt semoga senantiasa memberikan kesehatan kepada kita semua. amin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjut nya saya ingin menceritakan tentang masalah keluarga saya.&lt;br /&gt;sudah satu tahun lima bulan saya berkeluarga, dan tinggal bersama ibu saya yang sudah janda. dan dirumah itupun sudah ada kakak dan adik saya yang sudah berkeluarga pula. hanya satu adik saya yang masih bujangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya sudah punya satu anak perempuan yang lahir pada tanggal 27 juli 2006 lalu. namun permasalahan nya baru muncul setelah ibu saya sakit dan saya menangis karena merasa sedih melihat keadaan beliau. namun lain dengan istri saya, ia merasa cemburu karena saya memperhatikan ibu saya yang sangat saya hormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak saya adalah seorang penjaga matrial tidak jauh dengan rumah, tiap sore dia pulang untuk mandi dan makan. namun sayang nya pas magrib dia selalu setel radio nya, memang suara nya tidak terlalu keras, tapi cukup mengganggu yang lagi sembahyang dan mengganggu anak bayi saya yang sedang ngantuk. pernah saya tegur, tapi besok nya kumat lagi hingga membuat saya bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saya bertengkar dengan istri saya karena hal tersebut, hingga sangat membuat saya emosi. yang membuat saya lebih marah lagi, istri saya berkata "Siapa yang ayah pilih, bunda atau Ibu ( Orang tua saya )". Itulah yang membuat saya bingung, saya sangat sayang dengan ibu saya melebihi dari istri saya. dan kenapa istri saya tidak bisa menghargai keluarga saya..??&lt;br /&gt;mudah - mudahan pengasuh bia mengerti maksud saya. atas bantuan dan saran nya saya ucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam.&lt;br /&gt;Atam, Tamun Atam&lt;br /&gt;&lt;paku_80@.......... style="COLOR: #666600"&gt;Jawaban Pengasuh&lt;br /&gt;Wassalamualaikum wr. Wb,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#666600;"&gt;Pak Atam yang budiman,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#666600;"&gt;&lt;strong&gt;Apa yang menimpa keluarga Bapak, biasa terjadi dalam berinteraksi di keluarga. Sebenarnya hal ini merupakan masalah yang kecil tetapi akan menjadi masalah besar jika tidak segera diantisipasi dan diselesaikan.&lt;br /&gt;Saran kami :&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#666600;"&gt;&lt;strong&gt;Coba bicarakan dengan isteri, kalau Pak Atam sangat mencintai isteri dan sampaikan bahwa sebagai anak pak Atam yang berbakti, harus menyayangi orang tua apalagi mereka sudah ujur. Katakan padanya didalam QS. Al Israa : 23 dikatakan&lt;br /&gt;”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”&lt;br /&gt;katakan padanya kecintaan dan perhatian Pak Atam pada sang Ibu tidak akan merngurangi rasa cinta Bapak terhadap isteri (dengan pernyataan demikian isteri Pak Atam insyaAllah akan tenang)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#666600;"&gt;&lt;strong&gt;Katakan juga pada isteri Pak Atam, ”apa sang isteri tidak bangga memiliki suami yang berbakti pada orang tua?”, ”apa ia tidak ingin jika tua kelak anak-anak Pak Atam memperlakukan kita (Ibu-Bapaknya) dengan sangat baik ?melebihi perlakuan Pak Atam terhadap ibu?”&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#666600;"&gt;&lt;strong&gt;Tindakan kakak Pak Atam, tidak bisa disalahkan begitu saja, ia pun merasa berhak untuk melakukan sesuatu yang ia sukai di rumah orang tuanya, hanya memang sikap toleran dengan kepentingan orang lain jauh lebih baik dan seharusnya dimiliki oleh kakak Pak Atam.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#666600;"&gt;&lt;strong&gt;Sebaiknya Pak Atam tidak tinggal satu rumah dengan keluarga lain (keluarga kakak atau adik), menyewalah sebuah rumah agar keluarga Pak Atam dengan isteri bisa berdaulah di rumah sendiri, menegakkan aturan yang dibuat sendiri, hal ini sangat penting bagi keberlangsungan pendidikan anak dan keluarga. Jika Pak Atam ingin mengurus Ibu, ajaklah Ibu untuk tinggal bersama-sama keluarga pak Atam, tentunya sebelumnya dibicarakan dengan isteri.&lt;br /&gt;Jika tidak memungkinkan untuk pindah dan menyewa rumah sendiri, sampai kapanpun kejadian-kejadian yang berkaitan dengan perilaku kakak/adik Pak Atam akan selalu terjadi, Pak Atam harus bisa menerima dan tak bosan-bosan untuk mengingatkan anggota keluarga lainnya untuk saling bertoleran satu sama lain.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#666600;"&gt;&lt;strong&gt;semoga bisa menjadi solusi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#666600;"&gt;&lt;strong&gt;Pengasuh&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-117012754823213064?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/117012754823213064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=117012754823213064&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/117012754823213064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/117012754823213064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2007/01/tinggal-bersama-keluarga-lain.html' title='Tinggal bersama keluarga lain'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-117012707646932544</id><published>2007-01-29T19:17:00.000-08:00</published><updated>2007-01-29T19:17:56.896-08:00</updated><title type='text'>aktifitas Suami</title><content type='html'>Saya adalah seorang wanita yang telah ditinggal meninggal suami selama 10 tahun&lt;br /&gt;Menginjak tahun ke 8 saya berkenalan dengan seorang pria yang usianya lebih mudah 6 tahun sedangkan usia saya pada waktu berkenalan saat itu 38 tahun dan pada saat itu pria tersebut sedang ada masalah dengan keluarganya karena telah kurang lebih 1 tahun pisah rumah dan diakhir dengan perceraian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhubungan selama kurang lebih 3 tahun akhirnya kami memutuskan untuk menikah walau tanpa sepengetahuan pihak keluarga suami karena masalah sesuatu hal dan tidak ingin membuat shok orang tuanya setelah perceraiannya serta kami masih merahasiakan status kami di tempat kerja kami, oh iya kami berdua dalam satu kantor tetapi beda dinas dan sampai sekarang pihak keluarga suami belum mengetahui. Tapi setelah menikah ada perbedaan yang mungkin saya sendiri bisa memahami tetapi suami saya itu orangnya sangat keras kepala sehingga kalau saya mengeluarkan kata-kata saya dianggap telah melawan atau menjadai istri yang tidak patuh dengan suami. Yang menjadi permasalahan saya pada saat ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami menikah suami saya meneruskan kuliahnya kembali keperguruan tinggi negeri karena pada saat itu baru menyelesaikan DIII dan ingin mengambil S1 tetapi suami jarang pulang kerumah karena ingin belajar di rumah temanya atau menyelesaikan tugas-tugas kuliah saya memakluminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering pulang kerumah orang tuanya, saya mengerti karena memang seorang anak itu harus berbakti terhadap orang tuanya tetapi apa salah kalau saya menuntut pertanyaan kenapa sering menginap kerumah orang tuanya sedangkan kalau orang sudah menikah itu tidak harus selalu menginap tetapi cukup kita memperhatikan&lt;br /&gt;Selalu mengungkit masa lalu saya, sedangkan saya ini orang baik-baik tidak pernah menyeleweng dari kodratku sebagai istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mempertahankan perkawinan ini tapi bagaimana dan apa yang harus saya lakukan ?&lt;br /&gt;Terima kasih&lt;br /&gt;&lt;a name="messagePane1"&gt;&lt;/a&gt;Wassalam&lt;br /&gt;Diah Sabariah &lt;a href="mailto:DiahS@.........."&gt;DiahS@..........&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#996633;"&gt;Jawaban Pengasuh&lt;br /&gt;Assalamualikum wr wb,&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#996633;"&gt;Mbak Diah yang baik,&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#996633;"&gt;Apa yang Mba Diah alami sangat disesalkan karena sikap untuk tidak ingin pernikahan mba Diah diketahui orang tua/ keluarga juga teman-teman dengan batas waktu yang tidak ditentukan akan membuat Mbak Diah agak sulit untuk mengatasi masalah, saran kami :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#996633;"&gt;Sebaiknya bicaralah dengan suami, tanyakan apakah ia masih mencintai dan menginginkan untuk berrumah tangga, tanyakan juga bagaimana komitmennya dengan pernikahan yang sudah dijalankan, apakah masih tetap untuk bertahan dengan situasi seperti ini ? menyembunyikan pernikahan)?. ( (membiacarkannya pilihlah moment yang tepat, sampaikan dengan hati-hati, dan yakinkan padanya kalau Mba Diah siap mendengarkan apapun yang disampaikan suami)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#996633;"&gt;Kalau suami Mba Diah masih berkomitmen dengan pernikahan, tanyakan padanya sampai kapan pernikahan ini akan dirahasiakan, sebaiknya buatlah program untuk mulai mengarah ke arah sosialisasi dengan keluarga dan teman-teman di kantor/rumah.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#996633;"&gt;Tanyakan juga padanya apa rencana selanjutnya?&lt;br /&gt;Bicarakan harapan-harapan Mba Diah pada suami tanyakanlah harapan-harapannya terhadap pernikahan dan terhadap Mba Diah sendiri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#996633;"&gt;Semoga dapat menjadi solusi&lt;br /&gt;Pengasuh&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-117012707646932544?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/117012707646932544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=117012707646932544&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/117012707646932544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/117012707646932544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2007/01/aktifitas-suami.html' title='aktifitas Suami'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-116478912014732529</id><published>2006-11-29T00:09:00.000-08:00</published><updated>2006-11-29T00:32:00.573-08:00</updated><title type='text'>Suami masih mencintai mantannya</title><content type='html'>Assalamualaikum,Wr Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya wanita 25 th, saya sudah menikah selama 1  tahun dan saat ini sudah dikaruniai seorang putri berusia 1 bulan.&lt;br /&gt;Saya bingung dengan kondisi pernikahan saya, apakah akan diteruskan atau diakhiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat usia pernikahan saya baru 4 bulan secara tidak sengaja saya membaca tulisan suami saya di laptopnya, disana dia menulis kalau dia masih mencintai mantan pacarnya dan masih terus terbayang dan teringat terus dengan mantannya itu. Dia juga menyesal sudah menikah dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saat itu hati saya hancur, sedih,kecewa dan sakit hati. Saya merasa dibohongi dan dibodohi, kenapa dia menikahi saya kalau dia mencintai wanita lain. Sungguh ini tidak adil buat saya, saya sempat down dan tidak tahu harus berbut apa? saya pernah minta cerai tapi suami saya menolaknya, karena dia tidak ingin mengecewakan keluarga besar kami dan juga karena kami sudah dikaruniai seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jujur dia minta maaf kepada saya, dan berjanji akan mencoba menghilangkan perasaannya kepada mantan pacarnya itu, dia meminta saya untuk bersabar dan mendoakan dia agar bisa melupakan mantannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sampai 1 tahun kami menikah dia belum juga bisa melupakannya,bahkan dia sering menceritakan kepada saya kalau dia sering memimpikan dan masih terus terbayang-bayang mantan pacarnya, karena mereka sudah 5 tahun berpacaran dan sudah sangat dekat, sedangkan saya dan suami baru pacaran 2 bulan dan langsung menikah.&lt;br /&gt;Sungguh rasanya saya sudah tidak sanggup bertahan lebih lama, saya sampaikan pada suami saya, dia malah menyarankan saya untuk mencari pria lain karena dia kasihan dan tidak tega melihat saya menderita, sedang dia pun belum tahu sampai kapan bisa lepas dari bayang-bayang mantan pacarnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mau saya tanyakan sikap apa yang harus saya ambil? Rasanya berat kalau saya harus hidup dengan laki-laki yang mencintai wanita lain, tapi disatu sisi saya tidak tega melihat anak saya yang masih kecil harus menanggung beban perceraian orang tuanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mohon saran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sitoresmi prabaningrum (sita0502@......)&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;JAWABAN PENGASUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu yang baik, semoga Allah memberi banyak cinta untuk anak dan suami,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ibu sampaikan sangat dilematis, kami sangat mafhum jika ibu meminta cerai tapi bukankah perceraian itu dibenci Allah??, yakinlah setiap masalah yang Allah berikan pasti ada solusi yang terbaik, ini adalah cobaan yang Allah berikan untuk ibu dan suami, cobalah beberapa tip berikut :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Menyamakan visi dan misi dalam membentuk keluarga dengan ibu mau seperti apa?&lt;br /&gt;saling membuka diri.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Buatlah kesepakatan apa yang suka dan yang tidak suka masing-masing  pihak. Saling bercerita tentang kebiasaan, keluarga dan kebutuhan2 lain&lt;br /&gt;buat program dan kesepakatan bersama : isteri memberikan pelayanan terbaik, dan suami sepakat untuk melupakan. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Syukurilah suami ibu masih memiliki keinginan baik untuk mau melupakan. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Yakinilah bahwa sikap suami ibu ini adalah cobaan bagi ibu agar tetap menjadi isteri yang sholelah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Pastikan bahwa kecintaan ibu pada suami adalah semata-mata karena ibu cinta terhadap Allah SWT dan ingin menjadi isteri yang berprestasi sebagai hamba Allah. Jika kita menggantungkan semuanya pada Allah maka Ibu tidak akan kecewa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Semuanya harus dikembalikan pada Allah bahwa apa2 yang kita terima dari Allah adalah yang terbaik seperti yang Allah katakan dalam QS 2 : 216&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS.2 : 216)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;bersama2 mengikuti majelis ta’lim dengan mendatangi ustadz atau ustadz ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-116478912014732529?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/116478912014732529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=116478912014732529&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/116478912014732529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/116478912014732529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/11/suami-masih-mencintai-mantannya.html' title='Suami masih mencintai mantannya'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-116417633582311168</id><published>2006-11-21T22:13:00.000-08:00</published><updated>2006-11-21T22:18:56.320-08:00</updated><title type='text'>Bingung Menghadapi Isteri</title><content type='html'>Assalamu'alaikum Wr Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam dan doa senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Aza Wa Jalla yang telah meberikan Rahmad dan HidayahNya pada kita dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selama ini kami baru saja menjalani kehidupan bersama dalam mahligai pernikahan selama 1 tahun terakhir ini. proses pernikahan kami mengilhami dari tuntunan syariat dengan arti kata tanpa melakukan proses pacaran layaknya muda mudi sekarang kami memang sebelumnya pernah kenal dan sebatas tahu saja siapa dia dan saya, dalam sebuah keputusan kami sepakat untuk menikah bulan september 2005 lalu. namun dalam perjalanan awal hingga sekarang bayak sekali pertikaian yang kami alami yang tiada henti dari hari kehari mulai dari sebuah permasalahan sepele, kecemburuan, kurang kepercayaan masing-masing terhadap hp, salah paham pengertian bahasa karena kami dari later belakang beda suku dan kebiasaan anatar jawa dan banjar, sampai masalah yang rumit dan besar sekalipun kami alami tida henti-hentinya. dalam setiap pertengkaran istri saya selalu memulai dengan perkataan kasar terhadap saya lebih-lebih perkataan yang tidak pantas semisal " Bajingan kamu "dan tidak cukup disitu tamparan dan pukulan bertibi-tubi menghantam dan mendata di muka saya, terkadang saya juga terpancing emosi untuk melakukan pertahanan dan perlawanan namun saya sadar tidak lebih dari pada menganiaya.&lt;br /&gt;pertanyaan saya :&lt;br /&gt;1. Bagaimana menanggani sifat istri yang selalu gaya hidup gengsi padahal dia orang yang taat agama.?&lt;br /&gt;2. Bagaimana menanggani sikap istri yang demikian hal diatas.?&lt;br /&gt;3. Bagaimana ketegasan apa yang saya lakukan ?&lt;br /&gt;4. Bagaimana menaggani istri yang selalu menutupi kebohongan dirinya dan pihak keluarganya?&lt;br /&gt;5. Bagaimana menanggani istri yang selalu menyembunyikan uang belanja dengan maksud untuk diberikan pada pihak keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon kiranya pertanyaan dan masalah sya yang cukup pekat dan rumit ini mendapatkan solusi yang terbaik bagi kita semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum Wr Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OKI M ALFIANSYAH, SH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;JAWABAN PENGASUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Oki yang dicintai Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sudah pak Oki lakukan sudah tepat,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Samakan visi dan misi hidup dalam membentuk keluarga&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saling membuka diri termasuk dalam hal keuangan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buatlah kesepakatan apa yang suka dan yang tidak suka masing-masing pihak. Saling bercerita tentang kebiasaan, keluarga dan kebutuhan2 lain&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buat program untuk sama-sama ditaati, artinya buatlah program bahwa semua keinginan isteri maupun suami jika itu sesuai dengan kehendak Allah dijadikan rujukan, siapa-siapa yang tidak sesuai program yang disepakati dalam menjalani kehidupan rumah tangga harus berlapang dada untuk diingatkan dan untuk berubah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersama-sama mengikuti majelis ta’lim dengan mendatangi ustadz atau ustadz ke rumah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika isteri telah berlaku ’durhaka’(jika sudah melanggar syariat Allah, dan dipandang sudah keterlaluan) terhadap suami , suami wajib mengingatkannya secara lisan jika tidak berubah boleh dengan memukulnya (bagian yang tidak berbahaya)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ingatkan kepada isteri kalau suami adalah pimpinan rumah tangga, selama suami benar menurut ajaran Allah maka isteri wajib taat padanya, bersikaplah tegas terhadap isteri jika isteri membangkang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jelaskan pada isteri semua hal yang terjadi dalam rumah tangga harus sepengetahuan dan ijin suami.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Semoga isteri Pak Oki diberi taufik dan hidayarNya dan semoga barokah dan bimbingan Allah senantiasa menyertai rumah tangga Pak Oki&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-116417633582311168?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/116417633582311168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=116417633582311168&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/116417633582311168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/116417633582311168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/11/bingung-menghadapi-isteri.html' title='Bingung Menghadapi Isteri'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-116314610409812075</id><published>2006-11-10T00:04:00.000-08:00</published><updated>2006-11-10T00:08:24.533-08:00</updated><title type='text'>Suami chat with his ex</title><content type='html'>&lt;span style="color:#660000;"&gt;Assalamualaikum wr,wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku lagi bingung dan sedih.Sejak pertengahan&lt;br /&gt;october,aku baru tahu kalau suamiku contakan lagi&lt;br /&gt;dengan mantannya.Memang wanita itu belum pernah&lt;br /&gt;ditemuinya karena mereka kenal melalui internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat dulu sebelum menikah aku punya permintaan&lt;br /&gt;sama dia&lt;br /&gt;1) No second wife 2) tidak keep in touch dengan female&lt;br /&gt;friend baik yang online ataupun yg tidak and of course&lt;br /&gt;no contact with ex GF.&lt;br /&gt;And dia menyanggupinya.Tapi sekarang kenyataannya&lt;br /&gt;lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sewaktu aku tanya kenapa,dia bilang kalau dia punya&lt;br /&gt;mimpi yang sama selama 6 tahun.dan mimpi itu terjadi&lt;br /&gt;lagi.dimimpinya dia,ada 2 orang wanita.Yang satu&lt;br /&gt;mantanya itu dan yang satunya aku.dan mimpi itu&lt;br /&gt;terjadi dari sebelum aku kenal sama suamiku itu.&lt;br /&gt;Alasan lain karena suamiku mau menaruh investment&lt;br /&gt;ditempat perusahaan mantannya itu bekerja.Dan itu&lt;br /&gt;memang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang aku jadi sedih,I found out dari chat&lt;br /&gt;historynya, ada unsur personal.Yang aku lihat&lt;br /&gt;sepertinya suamiku menaruh hati lagi kepadanya.Dan&lt;br /&gt;suamikupun menyimpan foto-2 mantannya itu.Dan&lt;br /&gt;suamikupun mengirimkan uang dengan alasan untuk&lt;br /&gt;hadiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang,sikap suamiku jadi baik banget sama aku.Dan dia&lt;br /&gt;bilang kalau perasaannya dia tidak berubah.Dan tetap&lt;br /&gt;mencintai saya.Tapi hatiku sakit.sampai pada akhirnya&lt;br /&gt;aku bicara sama mantanya itu.Dari pembicaraan aku sama&lt;br /&gt;mantan suamiku itu,dia bilang aku ga perlu kuatir&lt;br /&gt;karena dia tidak mau pria beristri dan dia against&lt;br /&gt;poligami.&lt;br /&gt;Semenjak aku tlp mantanya itu,semuanya menjadi lebih&lt;br /&gt;terbuka.&lt;br /&gt;Dan aku pikir,suamiku yang ingin tahu apa arti&lt;br /&gt;mimpinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali aku bicara sama suamiku,dia pasti&lt;br /&gt;marah,dengan alasan,di islam tidak dilarang untuk pria&lt;br /&gt;mempunyai wanita lain.Aku sedih dan merasa down.&lt;br /&gt;Mungkin ini balasan atas dosa-dosa ku dahulu.Tapi Aku&lt;br /&gt;pun bersyukur atas kejadian ini,karena membuat aku&lt;br /&gt;ingin lebih belajar islam dan mendekatkan diri kepada&lt;br /&gt;allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang,kadang suamiku chatting sama&lt;br /&gt;mantannya,hampir tiap hari.walaupun aku ada di samping&lt;br /&gt;suamiku.Hatiku pedih apalagi saat ini aku lagi hamil 8&lt;br /&gt;bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku bilang sama aku,kalau dia masih care sama&lt;br /&gt;mantannya sampai sekarang.kalau aku minta&lt;br /&gt;cerai,suamiku akan mengambil anakku,tapi bila aku&lt;br /&gt;bertahan,hatiku terasa hancur.apalagi bila suamiku&lt;br /&gt;bilang "I love U" aku jadi sedih and juga happy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengasuh yang baik.....&lt;br /&gt;Jalan terbaik apa yang harus saya lakukan.Kadang saya&lt;br /&gt;tidak bisa menutupi kesedihan saya.Tiap saya menangis&lt;br /&gt;dan suami bertanya saya selalu menutupinya dengan&lt;br /&gt;alasan takut akan saat melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah chatting dengan yg bukan muhramnya boleh dalam&lt;br /&gt;islam? Apalagi suami bukan hanya bicara bisnis.Tapi&lt;br /&gt;hanya sekedar chit chat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadari juga,jika saya banyak mempunyai dosa.dan&lt;br /&gt;semuanya membuat saya semakin tertekan.&lt;br /&gt;Apakah berdosa bila saya menolak untuk melayani suami&lt;br /&gt;saya? karena saya merasa tidak bisa.saya sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mohon sarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;N&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAWABAN PENGASUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamualaikum wr, wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mba Nuri yang baik,&lt;br /&gt;Kecurigaan mbak itu tidak beralasan, tidak ada bukti kalau suami mbak berkhianat pada mbak, yang harus mbak lakukan sekarang adalah :&lt;br /&gt;1. Bersabar, bertawakal memasrahkan segalanya pada Allah, apalagi sekarang mbak sedang hamil kondisi emosional ibu akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosional janin. Untuk itu lupakan dan hindarilah pikirin-pikiran negatif. Bukankah Mbak sudah tanyakan langsung pada suami dan juga mantannya? dan jawaban mereka tidak ada yang perlu dicurigai kan. Kondisi ibu sedang hamil sangat rentan sekali dengan gangguan emosional, sehingga bisa saja semuanya itu adalah prasangka-prasangka yang datang dari kekhatiran kalau cinta suami akan berpaling, itu hal yang wajar. Secara psikologis tanpa Mbak sadari kegelisahan , kecemasan dan kekuatiran itu muncul. Jadi hadapilah dengan enteng dan santai toh ternyata suami sangat mencintai Mbak. Kelihatannya suami chatting dengan mantannya didepan Mbak mengindikasikan kalau ia suami yang terbuka terhadap isterinya, ia ingin agar setiap yang ia katakan pada mantannya bukan hal yang perlu dirisaukan atau dicurigai.&lt;br /&gt;2. Chatting dengan lain jenis (wanita lain) tidak berdosa selama apa yang dibicarakan tidak mengarah pada hal-hal yang dapat membangkitkan birahi, tapi akan sangat baik sekali jika kita menghindari untuk chatting/ mengobrol hal-hal yang tidak perlu untuk menghindari fitnah.&lt;br /&gt;3. Menolak melayani suami sangat dimurkai Allah, bahkan dalam sebuah hadits dikatakan bahwa seorang isteri yang menolak melayani suaminya maka Allah akan menyuruh para malaikat untuk tidak merahmatinya sampai esok pagi.&lt;br /&gt;4. Santai dan bersikap baiklah pada suami bahkan kami sarankan agar Mbak bersikap jauh lebih baik dari biasanya, agar suami merasakan betapa sang isteri sangat mencintainya.Sikap yang penuh curiga dan menolak untuk melayani suami akan membuat suami lebih merasa nyaman berdekatan dengan wanita lain karena isterinya tidak lagi memberi ia rasa aman dan nyaman.&lt;br /&gt;5. Teruslah mendekatkan diri pada Allah, sesali semua kesalahan diri selama ini dan anggap saja semua masalah kecil ini sebagai bentuk pembersihan diri dari dosa yang telah Mbak lakukan sebelumnya. Allah sudah mendengar do'a Mba maka ia memberikan ujian kecil ini agar Mbak lebih menyadari tidak tergoda bujuk rayu syetan untuk berbuat durhaka pada suami.Bagi muslim musibah yang datang adalah bentuk pembersihan dosa dan sebagai ujian atas keimanan kita agar iman kita lebih meningkat.&lt;br /&gt;Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat, sekali lagi berusahalah untuk melawan perasaan Mbak dengan positif thinking&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengasuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-116314610409812075?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/116314610409812075/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=116314610409812075&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/116314610409812075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/116314610409812075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/11/suami-chat-with-his-ex.html' title='Suami chat with his ex'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-116217744040244178</id><published>2006-10-29T18:56:00.000-08:00</published><updated>2006-10-29T19:05:21.403-08:00</updated><title type='text'>KONFLIK DENGAN SAUDARA IPAR</title><content type='html'>Assalamualaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirahmanirrahim...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin bercerita mengenai konflik yang terjadi dalam keluarga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan saya adalah berkisar tentang keimanan seseorang. Saya mempunyai kakak ipar laki2 yang kesehariannya taat beribadah, selalu mengagungkan sifat2 dan perilaku Rasulullah.. singkatnya dia mengaku bahwa dirinya seorang "Ikhwan". Pada awal pernikahannya dengan kakak saya yang juga seorang "Akhwat" tidak bermasalah bahkan keluarga kami sangat berharap kehadirannya dapat meningkatkan kualitas rohani di keluarga kami. Namun seiring berjalannya waktu kejanggalan2 itupun timbul. Sikap dan perilaku kakak ipar saya itu ternyata banyak yang tidak sesuai dengan harapan kami bahkan sangat mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali hal2 yang diluar perkiraan dan harapan, padahal dia selalu membanggakan keSHOLEHANnya. Contohnya adalah sifatnya yang selalu mementingkan diri sendiri ketimbang keluarganya (istri dan 2 anaknya yang masih bayi)..Dia sering lapar mata terutama untuk barang2 yang sifatnya duniawi seperti HP, MP3 dll..Padahal dari segi penghasilan tidaklah mencukupi kebutuhannya sehari2 buktinya untuk mengontrak rumahpun mereka belum mampu. Sering istrinya dibuat menangis karena kurangnya perhatian dan tidak PEKAnya suaminya itu terhadap anak2nya. Dan yang membuat hati saya kesal dia tampak tidak perduli dengan anak2nya dan selalu mengandalkan IBU saya (mertuanya untuk menggendong sampai menceboki anak2nya) sementara tidak ada yang dia lakukan selain menonton TV..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas saja anaknya tidak mau dengan dia pun bila dia pegang lebih banyak menangisnya karena kecuekkannya. Bila dinasihati oleh nenek saya untuk menjaga dan perhatian terhadap keluarganya, jawabannya dengan nada tinggi mengatakan bahwa dia lebih tahu di banding nenek saya itu. Bisa dibayangkan betapa sakit hatinya hati nenek saya. Sayapun bilang orang seperti itu tidak perlu digubris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan suatu kali amarah saya memuncak, karena sudah tidak tahan melihat kelakuannya yang semena2 kepada anak2nya dan terutama ibu saya.. saya tanpa pikir panjang mengeluarkan kata2 kasar dan mengatakan bahwa dia seorang ayah yang tidak becus dan tidak pantas untuk dipanggil ABI oleh anak2nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tahukah Anda apa yang ida lakukan? Dia mengacungkan kepalan tangannya didepan wajah saya dan dia menampar saya dengan arogannya mengatakan saya harus hormat kepadanya dan ocehan2 yang seharusnya ditujukna untuk dirinya sendiri. Dan kejadian itu terjadi dibulan RAMADHAN bahkan seminggu sebelum hari raya. Kejadian itu semakin membuat saya semakin bertanya2 siapa yang benar dan siapa yang salah, apakah dibenarkan kata2 dibalas dengan fisik. Apakah orang yang taat beribadah tidak perlu lagi berkelakuan baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita2 diatas hanyalah sebagian kecil dari perilaku seorang yang menganggap dirinya SHOLEH dan selalu benar. Masih banyak lagi tindakan2nya yang bagi saya tidak layak bahkan mustahil dilakukan oleh orang Sholeh... Apakah orang sholeh menyukai gambar2 porno? Apakah orang sholeh yang sudah beristri dihalalkan keluar makan malam dengan wanita dengan dalih sudah seperti adik sendiri( kalau begitu anggap saja semua saudara sehingga tidak ada lagi batasan muhrim??).. Apakah orang Sholeh suka memamerkan kebaikan yang ia lakukan? Bagaimana hukumnya membentak dan memerintah orang tua? dan pertanyaan2 lainnya yang ingin sekali tahu jawabannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tidak ada lagi rasa kagum saya untuk kakak ipar saya itu yang tersisa adalah rasa prihatin untuk kakak saya karena memiliki suami yang berkedok.. Mungkin ini saja dulu yang dapat saya sampaikan. Saya amat sangat menunggu respon dari Anda karena sebenarnya masih banyak lagi yang ingin saya utarakan..&lt;br /&gt;Demi kekuatan IMAN dan IKHSAN saya mohon bantuannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamba ALLAH&lt;br /&gt;"hamba Allah" hamba79@...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Jawaban buat hamba Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu’Alaikum wr. wb,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya turut prihatin dengan kejadian seperti itu dan hal itu sering terjadi, secara kasat mata apa yang kita lihat biasanya diawal itu senantiasa terlihat baik, karena biasanya ornag bisa menjaga image pada saat awal dan berusaha baik untuk dilihat orang, tetapi pada kelanjutannya semakin kita bisa amati maka karakter asli bisa kelihatan. Untuk itu karena telah terjadi hanya bisa bersabar dan berusaha untuk bisa mengubah karakter yang kurang baik menjadi baik dan ini memerlukan waktu yang cukup panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bicara dengan kakak secara pribadi apakah sepakat bahwa suami kakakmu itu memiliki karakter kurang baik? Kalau sama buatlah langkah-langkah yang disepakati untuk mengubah prilaku kakak ipar dengan mulai mengidentifikasi apa yang baiknya dari dia dan apa yang kurang baiknya menurut kalian, atau carilah teman dekatnya (teman se majelis taklim/sahabat suami yang disegani oleh suami) bicarakan dengan teman suami tersebut, mintalah tolong untuk mentausyiahinya dengan pendekatan dari Al Qur-an dan sunnah tentang adab berkeluarga ( yang disebut keluarga sakinah, mawaddah warohmah) yaitu tugas dan kewajiban baik untuk istri maupun untuk suami serta sebagai anak sholeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajak bicara oleh istrinya tentang sikapnya terhadap Qur-an dan sunnah apakah menjadi rujukan dalam kehidupannya atau tidak ? jika jawabanya ya maka lanjutkan berdialog dengan suami untuk mengetahui pemahaman suami mengenai keluarga sakinah dari hasil dialog cocokan dengan pendekatan Al Qur-an dan Sunnah yang kalian temukan apakah suami kakakmu itu faham dengan pendekanan itu atau tidak? Jika tidak berarti kakak iparmu itu belum tahu tentang keluarga sakinah atau hak dan kewajiban sebagai suami dan ayah yang baik maka kita perlu memberikan bimbingan kepadanya karena kesalahan yang dilakukannya berarti karena ketidaktahuannya. Tetapi caranya jangan dengan cara seperti menggurui tetapi mengajak dia untuk membaca buku dan mendiskusikannya sambil diajak untuk sama-sama melakukan sebagai suami istri yang baik dan sebagai ayah dan ibu yang baik. Atau kalau dia tahu dengan pendekatan Al Quran dan sunnah, berarti dia belum mendapatkan bimbingan dari Allah SWT, maka ajaklah dia membaca Al Qur-an surat 61 ayat 1-4, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;li&gt;Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan ajaklah berdialog bagaimana pemahaman dia mengenai ayat itu, dan bagaimana jika kita termasuk orang yang mengatakan, memahami tetapi tidak mengerjakan? Karena dalam ayat tersebut dikatakan amat besar kebencian Allah kepada yang mengatakan tetapi tidak mengerjakan. Selamat mencoba semoga berhasil tetapi sebelumnya berdo’a dulu untuk diberikan kemudahan kepada Allah agar kakak ipar diberikan hidayah untuk mau berubah kearah yang baik sesuai dengan bimbinganNya dan Sunnah Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Pengasuh&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-116217744040244178?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/116217744040244178/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=116217744040244178&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/116217744040244178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/116217744040244178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/10/konflik-dengan-saudara-ipar.html' title='KONFLIK DENGAN SAUDARA IPAR'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-116131509683133876</id><published>2006-10-19T20:09:00.000-07:00</published><updated>2006-10-19T20:31:36.990-07:00</updated><title type='text'>Tentang Ibu</title><content type='html'>Assalamualaikum wr. wr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya seorang ibu rumah tangga berusia 25 tahun yangmempunyai banyak sekali masalah.&lt;br /&gt;Baik masalah dari masalalu maupun sekarang.Sampai saya bingung harus memulaidari masalah yang mana.saya merasa kehilangan arah terutama dalam masalah agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin untuk surat pertama saya akan menanyakan sikap apa yang harus saya ambil terhadap Ibu saya. Saya sangat mencintai dan menyayangi ibu,tapi terkadang sikap Ibu begitu membingungkan terutama bila beliau merasa kekurangan dalam segi materi.Dulu,sewaktu ibu masih menikah dengan Ayah, semua kebutuhan tercukupi.tapi sekarang ibu sudah lamabercerai. Dan bila ibu merasa kekurangan dalam segi materi dia akan marah,kesal,dan menuangkan semuanya kepada anak-anaknya dengan cara menyindir atau complain sepanjang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang perkataan yang dikeluarkan tidak pantas dikeluarkan didepan ponakan-2yang masih berusia 8 dan 1 tahun.saya bingung harus bagaimana.Saya juga merasa bersalahdan mempunyai dosa banyak terhadap Ibu saya.Sekarang ini memang saya tidak tinggal bersamaIbu,melainkan bersama suami.Tapi kakak wanita sayayang serumah dengan Ibu sering sekali medapat masalahini.terima kasih atas sarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamualaikum&lt;br /&gt;ukhti yang baik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhti jika usia telah mulai lanjut maka sikap orang tua akan kembali seperti anak kecil, mungkin begitu juga yang dihadapi oleh Ibu, kita anaknya harus maklum dan berlapang dada menghadapi sikapnya, jangan diambil hati perkataan-perkataannya abaikanlah, cuma perlu disampaikan dengan cara yang baik pada Ibu tidak baik marah-marah tanpa alasan apalagi dihadapan anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampaikan bahwa anak-anak Ibu sangat mencintai beliau, cuma rasa cinta itu tidak bisa kami wakilkan seluruhnya dengan materi apalagi kondisi kami sudah memiliki tanggung jawab lain yang harus kami tanggung (berkeluarga). Jika kami punya uang tentu kami pun tak perlu disuruh akan berbagi pada Ibu, tapi rejeki berupa materi itu tidak selamanya ada kan Bu. Kami mohon maaf jika semua kebutuhan Ibu belum bisa kami penuhi seluruhnya. Mungkin sebaiknya kita semua harus berhemat, gaya hidup kita harus berbeda saat ada ayah dengan sekarang tanpa ayah. Jika Ibu merasa tersinggung oleh sikap kami, kami mohon Ibu membicarakannya baik-baik agar kami faham dan kita bisa carikan jalan keluarnya dengan baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibiasakanlah untuk selalu mengkomunikasikan semua perasaan kita dan perasaan Ibu agar tidak ada salah faham, mulanya akan sulit tapi lama-kelamaan kita akan piawai dalam menyelesaikan masalah seperti ini. InsyaAllah ibu akan mengerti, beliau pun punya Ibu juga (nenek atau ibu mertuanya) pasti beliau akan mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah seburuk apapun sikap seorang Ibu, pintu maafnya akan selalu terbuka bagi anak-anaknya, sebaliknya kita anak-anaknya selalu berhitung maaf dan selalu menuntut sikap yang sempurna dari orang tua kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah membukakan pintu hati Ibu ukhti, agar beliau sadar akan kehilafannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengasuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-116131509683133876?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/116131509683133876/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=116131509683133876&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/116131509683133876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/116131509683133876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/10/tentang-ibu.html' title='Tentang Ibu'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-116131374815559247</id><published>2006-10-19T19:41:00.000-07:00</published><updated>2006-10-19T20:09:08.556-07:00</updated><title type='text'>Mohon Petunjuk</title><content type='html'>Assallamua'laikum Wr.Wb.Aku perempuan berumur 34 th, lagi bekerja di sebuah perusahaan, tapi belum punya jodoh, setiap orang yang menyukaiku adalah orang yang sudahpunya istri. Aku hidup bersama 6 saudara aku yang paling besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku yang kedua sudah merried dan tinggal bersama kami, dia mendapatkanjodoh, yang sebenarnya kedua orang tua ku tidak setuju karena orangnyatidak suka sholat, orangnya angkuh  dan selalu berbeda pendapat denganadik2ku yang lain, makanya adik2ku tidak menyukainya tapi kami tidakbisa berbuat apa2 karena kehidupan keluarga ditopang oleh mereka meskipun tidak seratus persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang tua ku setiap hari merasa tertekan dengan kelakuan suami adiku setiap hari orang tuaku hanya bisaberkata iya walaupun dibelakang  berkata lain, bahkan suatu hari orangtuaku sampai berdoa " mudah2 dia mendapat celaka kalau pergi keluar"mungkin saking jengkelnya perasaan ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku ingin tanyakan    :Bagamana caranya supaya saya cepat mendapat jodoh tapi  yang masihsingle karena yang datang selama ini adalah yang sudah punya istri?Yang kedua bagaimana caranya keluarga saya dapat hidup rukun dan damailagi tanpa harus menceraikan suami adiku yang semenjak dia masuk menjadikeluargaku kehidupan di keluargaku jadi tidak harmonis lagi.Saya ucapkan terimakasih sebelumnya mohon kasih petunjuk..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassallam&lt;br /&gt;Yanti di kota A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Pengasuh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jodoh itu rahasia Allah, perbanyaklah berdo'a memohon yang terbaik dariNya, dibarengi dengan berikhtiar bergaullah dengan orang-orang dimana pun berada di perusahaan, di rumah, bergabunglah dengan organisasi-organisasi/ LSM yang bisa memberi pencerahan terutama organisasi/ LSM Islam. Manfaatny akan sangat banyak selain menambah wawasan, memperluas pergaulan juga kita akan mengenal berbagai macam karakter orang sehingga kita akan lebih arif dalam menghadapi dan mengatasi masalah.Dari pergaulan semacam itulah maka jodoh insyaAllah akan ukhti dapatkan. Hanya saja kita perlu selektif menentukan calon suami kita.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada dua cara yang bisa dilakukan, pertama, berilah nasihat pada suami adik agar menjalankan perintah Allah dengan baik, nasihatnya bisa secara langsung atau dengan mengadakan pengajian rutin setiap pekan 1-2 jam mengundang orang (coba hubungi bagian mubaligh Yayasan Baiturrahman, phone: 0852202255660 contact pa ust yamin) atau bisa cari mubaligh dari mana saja yg ukhti percaya. cara yang kedua suruhlah adik dan suaminya mencari rumah sendiri (pindah) agar mereka bisa mandiri membangun rumah tangga dan kuatkan adik ukhti untuk selalu mengingatkan suami, cuma resikonya keluarga ukhti harus siap tidak ada bantuan secara materiil dari keluarga adik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah membukakan pintu hati suami adik ukhti agar senantiasa menjalankan kewajibannya sebagai muslim dan sebagai suami amiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengasuh&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-116131374815559247?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/116131374815559247/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=116131374815559247&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/116131374815559247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/116131374815559247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/10/mohon-petunjuk.html' title='Mohon Petunjuk'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-115976652931326018</id><published>2006-10-01T22:19:00.000-07:00</published><updated>2006-10-01T22:22:09.556-07:00</updated><title type='text'>Orang Tua Non Muslim</title><content type='html'>Wassalamualaikum wr wb,&lt;br /&gt;mohon maaf mas habibnebi saya baru balas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas, sebaiknya memang mas Habib dan istri pisah rumah dengan orang tua, setidaknya akan meminimalisir masalah yang timbul selain tentunya akan menjadikan kita mandiri dan bebas mengatur dan membangun keluarga, namun jika tidak memungkinkan saran kami sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Yakinkan pada isteri kalau yang harus ditaati pertama kali adalah suami (selama suami tetap dalam Dienul Islam) kemudian orang tua&lt;br /&gt;2. Mas sendiri jangan hanya mendengar pengaduan dari ibu saja, coba klarifikasi pada isteri&lt;br /&gt;3. Katakan pada isteri untuk bersabar, tetaplah santun karena walau bagaimanapun mertua adalah orang tua isteri juga. Sampaikan juga apapun yg dikatakan ibu, mas tetap mencintai isteri,pandai-pandailah mengambil hati ortu dengan ucapan, sikap yang manis. Lakukanlah apa-apa yg membuat ortu senang selama tdk keluar dari syariat Allah SWT&lt;br /&gt;4. Katakan juga pada ibu bahwa mas sudah cukup puas dengan pelayanan yang diberikan isteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga keluarga mas tetap harmonis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalam&lt;br /&gt;Pengasuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;habib nebi &lt;habibnebi@yahoo.com.sg&gt;wrote:&lt;br /&gt;Asalamualaikum wr. WbYth Ibu rina di tempat, saya sudah menikah selama 3th dengan 1 anak perempuansaya sekarang di rumah ibu saya, saya sering tidak bisa adil atau bagaimana, saya sering di waduli(jawa) curhati sama istri saya dan ibu saya, mesti sering perkara istri saya yang tak perna merasa bertanggung jawap pada saya versi ibu saya, dan istri saya bilang sering diomelin dan disakiti hatinya, meskipun masalah kecil dan besar. pertanyaan saya:1. bagaimana mensikapi keadaan ini tentang ibu dan istri saya?2. bagaimana bisa meyakinkan istri saya supaka dia tetap bersabar dan tabah?3. bagaimana menerangkan bahwa surga ditelapak kaki ibu dan surga ditelapak kaki suami (untuk istri)?4. bagaimana saya bisa menerangkan bahwa istri tersebut harus patuh dengan suami bukan patuh pada ibu &amp;amp; bapak (istri saya, mertua saya)kami ucapkan banyakterimakasih, mohon maaf jika terdapat kata-kata yangkurang berkenan.Wassalamu'alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sg.rd.yahoo.com/mail/sg/footer/yh/*http://mail.yahoo.com/?.intl=sg"&gt;Yahoo! Mail&lt;/a&gt; - now with AutoComplete that helps fill email addresses&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-115976652931326018?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/115976652931326018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=115976652931326018&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115976652931326018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115976652931326018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/10/orang-tua-non-muslim_01.html' title='Orang Tua Non Muslim'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-115976078617668247</id><published>2006-10-01T20:41:00.000-07:00</published><updated>2006-10-01T20:46:27.116-07:00</updated><title type='text'>Orang Tua Non Muslim</title><content type='html'>Saya seorang anak yang mempunyai ayah yang non muslim.saat ini saya berumur 25 tahun. yang ingin sayatanyakan apakah saya berdosa dan durhaka jika sayatidak berusaha mengajak ayah saya ke Islam. Sayasebetulnya ingin sekali, tapi topik itu dalam keluargasangat sensitif, saya takut menyinggung perasaan ayahsaya. Tapi kalo tidak saya lebih takut kepada AllahSWT. Bagaimana ya seharusnya cara saya agar dapatmengajak ayah saya tanpa menyinggungnya? terima kasihatas sarannya.Wassalamualaikum Wr Wb..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tika Danti,&lt;br /&gt;t_danti@...&lt;br /&gt;__________________________________________________&lt;br /&gt;Jawaban Pengasuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajak orang untuk mengikuti syari'at Islam (berdakwah) adalah wajib bagi setiapmukmin, namun dalam berdakwah tidak harus selalu dengan lisan tapi dengan hikmah pun jauh lebih baikhasilnya seperti yg Allah katakan dalam QS. An Nahl : 125&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik ]dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdakwah dengan hikmah itu artinya kita menampilkan akhlaq mukmin yang baik sikap dan perilaku kitamencerminkan sosok mukmin yg telah dicontohkan Rasulullah yakni lemah lembut, hormat pd ortu sekalipunortu kita bukan muslim tp hormat pd ortu tetap wajib bg setiap mukmin.Yang tidak boleh itu adalahmentaati ortu yg menyuruh kita berbuat musyrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah membukakan pintu hati orang tua Ukhti agar mendapatkan hidayah dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;br /&gt;Pengasuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-115976078617668247?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/115976078617668247/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=115976078617668247&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115976078617668247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115976078617668247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/10/orang-tua-non-muslim.html' title='Orang Tua Non Muslim'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-115456934269692417</id><published>2006-08-02T18:16:00.000-07:00</published><updated>2006-08-02T18:42:39.126-07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Menumbuhkan Minat Baca Anak?</title><content type='html'>Ummi Rina,&lt;br /&gt;saya mau nanya nih, saya seorang ibu muda baru memiliki bayi usia 1,5 th, saya pernah dengar katanya kalo ingin menanamkan minat baca harus kita latih sejak bayi, benarkah demikin?, dan bagaimana caranya menumbuhkan minat baca sejak dini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian saja pertanyaan dari saya mohon di jawab ya Mi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Jihan&lt;br /&gt;syifa@............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban dari Pengasuh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Benar sekali Ummu Jihan, untuk menanamkan kegemaran membaca hendaknya dimulai sejak bayi, penelitian menunjukkan bahwa janin usia 4 bulan pun pendengarannya sudah berfungsi, oleh karena itu kita harus :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;memberi stimulasi dengan mengajaknya berkomunikasi sejak ia dalam kandungan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;perdengarkan alunan ayat suci Al Qur'an, musik-musik lembut agar pendengaran dan otaknya terrangsang untuk berkembang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;setelah lahir, tetaplah memperdengarkannya dan mengajaknya berbicara serta memperlihatkan padanya buku-buku yang berwarna menyolok&lt;/li&gt;&lt;li&gt;biasakan untuk membacakan cerita&lt;/li&gt;&lt;li&gt;setelah bayi mulai bisa berceloteh, belikan buku dengan kertas yang tebal yang memungkinkan baginya untuk memegang, melihat, membacanya atau mungkin meremasnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;jadikan buku sebagai bagian dari alat bermain &lt;/li&gt;&lt;li&gt;siapkan tempat yang memungkinkan menyimpan mainan dengan buku bergandengan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;biasakan selalu membekali buku setiap kali bepergian&lt;/li&gt;&lt;li&gt;selalu lah membacakan buku dan bertanya padanya tentang komentar suatu cerita di buku atau komentar tentang segala sesuatu yang ia dengar dan lihat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;beri perhatian yang antusias saat anak bertanya, membicarakan sesuatu atau berceloteh konyol&lt;/li&gt;&lt;li&gt;biasakanlah memberi mereka kertas untuk bercorat-coret, menggambar, mewarnai karena walau bagaimanapun aktifitas membaca sangat terkait dengan menulis, bicara dan mendengar.  Menulis adalah ekspresi dari imajinasi dan pengalaman mendengar dan melihat&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Mungkin hanya itu saja, semoga bermainfaat jika memungkinkan kita akan bahas tip dan trik menumbuhkan minat baca bagi anak pra sekolah&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari Pengasuh&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-115456934269692417?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/115456934269692417/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=115456934269692417&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115456934269692417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115456934269692417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/08/bagaimana-menumbuhkan-minat-baca-anak.html' title='Bagaimana Menumbuhkan Minat Baca Anak?'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-115388512804587636</id><published>2006-07-25T20:35:00.000-07:00</published><updated>2006-07-25T20:38:48.903-07:00</updated><title type='text'>Tentang Anak Kakak</title><content type='html'>ASS WR WB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, saya adalah tante dari  beberapa keponakan, salah satunya sebut aja "X", laki-laki  (6 tahun). Saya nggak tahu harus mulai dari mana, bolehkah saya sedikit curhat???&lt;br /&gt;Dari mulai  lahir sampai sekitar umurnya 4 tahun, keponakan saya dan ortunya tinggal bersama kami (Bapak, ibu,  dan  saudara ibunya yang lain termasuk saya). Semenjak sekitar umurnya 6 bulan hingga sekaranglah saya merasa sbg orang yang sangat SESAK, dan bahkan terkadang berfikir "TUHAN TIDAK ADIL. .. (???)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keponakan sering dibentak, , .dipukul, bahkan dulu kalau orangtuanya  berantem didepan anaknya, dan si anak menangis ketakutan, maka si anak  malahan dimarahin&lt;br /&gt;Ketika ponakan saya berumur 4 tahun, kaka saya ngontrak rumah sendiri, jadi pisah sama orangtua kami. Dan sekarang kakak saya dan suaminya berpisah (belum cerai), ibunya (kaka saya) dan anaknya (ponakan saya) tetap tinggal di kontrakan. Bapaknya terkadang saja datang dan mengajak anakanya jalan-jalan. Saya pikir dengan berpisahnya kakak saya dan suaminya, akan membuat "kelakuan" kaka saya berubah, ternyata nggak bu... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ibunya kerja, dan anaknya sekolah, ponakan saya akan dititip di rumah embahnya. Jadi sampai dengan sore ia akan bersama saya, pembantu, dan embahnya. seingkali saya denger ibunya ngomong yang nggak pada tempatnya, seperti:&lt;br /&gt;"bunda tahu,  kamu seneng ayah dateng, soalnya karena dikasih duit kan, kamu mau duitnya aja kan?"  (ayahnya kalau dateng, suka ngasih ponakan saya "uang jajan" atau  "udah deh bang terserah , kalo nggak mau diurusin ya udah?" (sering banget saya denger).&lt;br /&gt;Ibu, mungkin hanya sedikit yang saya denger, bagaimana kalau ponakan saya itu dirumahnya.... berapa banyak omongan kasar dan kekerasan fisik yang dia terima, saya nggak bisa bayangin..&lt;br /&gt;Pukulan yang keras, udah sering saya liat bu, dan ponakan saya cuma meringis dan tersenuyum kecut seakan sudah terbiasa. suatu kali saya ngeliat pahanya ada tanda biru, trus ponakan saya bilang " bekas dicubit bunda..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu , tangan kanan keponakan saya agak sulit digerakkan, dan saya yakin 99% itu karena ibunya  sering menarik tangannya dengan kasar ( ini dilakukan ibunya dari dulu sampai sekarng).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, saya sering bilangin kalau "perlakuannya"  nggak baik buat perkembangan jiwa anaknya, dari mulai dengan cara yang lembut sampai cara yang agak kasar "suara saya mulai meninggi atau saya sambil menangis", tapi dia cuma membela dirinya kalau apa yg dilakuinnya itu benar...Dan jeleknya saya sering nggak tahan dan saya "nasehatin" kakak saya itu di depan anaknya, jd anaknya  sekarang suka membantah ibunya (mungkin ponakan saya tahu saya "membela" dirinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, saya tahu saya hanyalah TANTEnya dan bukan ibunya, tapi saya nggak rela bu kalau ngeliat ponakan saya diperlakukan kaya gitu sama ibu kandungnya sendiri...&lt;br /&gt;Saya juga udah bilang sama orangtua (bapak dan ibu) kalau kaka saya itu kasar sama anak dan saya berharap orangtua kami mau nasehatin kaka saya, kayaknya kok orangtua nggak bertindak apa-apa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, dalam shalat, ponakan yang saya doain secara khusus cuma X ini bu.. bahkan kadang saya berdoa pada Allah SWT mungkin lebih "baik" "ambil"aja bu ponakan saya itu, daripada hidupnya menderita ... Ibu, saya minta bantuannya bu menghadapi masalah ini, hanya Allah SWT yang bisa balas kebaikan ibu.&lt;br /&gt;Wassalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hgh_selena@..........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JawabanWassalamualaikum wr wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mba Selena...yang yang baik hati&lt;br /&gt;masalah yang sedang dihadapi sangat kompleks, tapi marilah kita urai satu persatu,&lt;br /&gt;1. Sebaiknya dorong orang tua untuk melakukan tindakan terhadap kakak mba selena, agar secepatnya memperbaiki hubungan suami-isteri karena walau bagaimana pun hubungan tersebut sudah tidak benar (terpisahnya suami dari isterinya dengan tidak adfa alasan yang jelas). Seharusnya sang isteri mengikuti suami untuk bisa hidup serumah.Ketidakjelasan hubungan tersebut akan membawa dampak yang tidak baik bagi anak maupun kedua orang tuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berilah pemahaman pada kedua kakak mba selena, sikapnya terhadap suami/ isteri dan anaknya akan memberikan dampak yang tidak baik, katakan jika ada permasalahan antara suami isteri selesaikan berdua jangan melibatkan/ didepan anak,karena semuanya akan dicontoh oleh anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sampaikan pada kedua kakak mba selena, bahwa memperlakukan anak dengankekerasan tidakakan menyelesaikan masalah bahkan akan menimbulkanmasalah baru, anak akan menyimpan dendam sehingga ia tidak memiliki uswah dan nilai hidup, jangan jadikan anak sebagai pelampiasan rasa marah kedua  orang tuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Lakukan terapi pada ponakan mba selena dengan cara :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. bahwa kedua orang tuanya sangat menyayanginya, tentunya rasa sayangnya ia ungkapkan dengan cara yang berbeda tidak seperti tante, tanyakan padanya ia ingin ayah ibunya bersikap bagaimana terhadapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  suruhlah kedua kakak mba untuk meminta maaf pada anaknya atas segala sikap yang sudah dilakukannya, dan katakan pula pada keponakan mba untuk memaafkan semua kesalahan yang dilakukan kedua orangnya, orang tua juga manusia yang sempat berbuat salah, suruhlah orang tuanyauntuk berjanji tidak memperlakukannya dengan kasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. berilah sentuhan, pelukan dan ciuman dari orang-orang di sekitarnya termasuk kedua orang tuanya dan berhentilah melakukan tidakan kasar (fisik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Alternatif terburuk jika kedua orang tuanya belum ada perubahan sikap, untuk sementara waktu tinggallah dengan mba selena sampai mentalitasnya membaik (misalnya mba selena yang pindah rumah atau suruh kakak mba selena yang pindah mengikuti suami dan untuk beberapa saat biarkan anaknya menentukan dengan siapa ia ingin tinggal untuk sementara waktu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah mba selena mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan, bersabarlah...jadikanlah mendidik ponakan sebagai latihan mendidik anak mba selena kelak. Semua pasti ada hikmahnya, berusahalah semaksimal mungkin untuk, takdir itu hanya ada di tangan Allah, yang harus kita lakukan adalah menyempurnakan ihtiar, berdo'a dan tidak berputus asa akan rahmat Allah  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengasuh&lt;br /&gt;Ummi Rina&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-115388512804587636?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/115388512804587636/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=115388512804587636&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115388512804587636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115388512804587636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/07/tentang-anak-kakak.html' title='Tentang Anak Kakak'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-115200099280736562</id><published>2006-07-04T00:36:00.000-07:00</published><updated>2006-07-04T01:16:33.290-07:00</updated><title type='text'>Bapak...mengapa kita tidak boleh makan daging babi??</title><content type='html'>" Pa... mengapa kita tidak boleh makan daging babi? mengapa orang Amrik mah boleh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(pertanyaan Thorik pada Bapaknya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kita adalah muslim, Allah menyuruh orang muslim untuk tidak memakan daging babi sebab daging babi mengandung cacing pita tidak baik untuk kesehatan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak semua orang Amrik boleh makan daging babi, maksudnya kalau orang Amrik yang beragama Islam sama tidak boleh memakan daging babi.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;"Kalau begitu kenapa Allah menciptakan babi kalau dagingnya tidak boleh dimakan?"&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Allah maha tahu apa yang dilakukannya, oleh karena itu kelak kau harus jadi anak pintar agar bisa menggali dan meneleti kenapa Allah melarang muslim makan daging babi, ada apa dengan daging babi. Kita muslim papun yang diperintahkan Allah maka kita wajib untuk taat sebab kita hamba Allah pengetahuan kita terbatas dan Allah maha luas pengetahuanNya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Babi diciptakan, agar menjadi ujian bagi setiap muslim siapa yang diantara mereka yang taat akan larangan Allah, siapa yang berprestasi diantara muslim. Nah...nak..oleh karena itu jadilah kamu muslim yang berprestasi, cerdas, taat dengan perintah Allah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;pengasuh&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-115200099280736562?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/115200099280736562/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=115200099280736562&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115200099280736562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115200099280736562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/07/bapakmengapa-kita-tidak-boleh-makan.html' title='Bapak...mengapa kita tidak boleh makan daging babi??'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-115155917662401846</id><published>2006-06-28T22:18:00.000-07:00</published><updated>2006-06-28T22:36:23.040-07:00</updated><title type='text'>Pertanyaan dari Ummi Faizah</title><content type='html'>umi faizah &lt;myusheva@...........&gt;wrote:&lt;br /&gt;Asalamualaikum wr. Wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Rina yth, saya dan temen2 ingin membuat sebuahprogram untuk recovery psikis anak2 di Klatenpascabencana, sebagai tambahan referensi, kami mohonpada Ibu untuk memberi masukan, kira2 jenis kegiatanatau permainan apa yang dapat membantu memulihkansemangat dan memotivasi mereka?Atas seran yang diberikan kami ucapkan banyakterimakasih, mohon maaf jika terdapat kata-kata yangkurang berkenan.Wassalamu'alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Assalamualaikum wr wb,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi Faizah yg budiman,&lt;br /&gt;A. Jika yg jadi peserta siswa/anak- anak&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ajak mereka untuk duduk/ berkumpul suruh mereka menceritakan semua yang mereka rasakan, lihat dan dengar atau bagi anak yang trauma/mogok bicara suruhlah mereka menggambar apa saja yg mereka rasakan,lihat, dengar atau apa saja yg mereka mau gambar, atau mengarang tentang apa saja tujuannya agar semua beban yg mereka rasakan dapat mereka kelurkan, ini baik untuk mengurangi depresi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;buatlah permainan-permainan dengan cara bertanya pada anak, permainan macam apa yg ingin mereka mainkan? kalo mereka tdk memilki ide kita tawarkan permainan seperti tebak-tebakkan/ sulap, petak umpet, dll&lt;/li&gt;&lt;li&gt;buatlah kegiatan seperti mendengarkan dongeng, nonton film anak yg isinya ttg ketegaran, kesabaran (bisa kartun atau apa saja utk anak), mewarnai,melukis, membuat karya cipta : layangan, tembikar dll&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;* anak-anak jangan dulu diberi pembelajaran yg menguras pikiran sampai mereka pulih betul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. jika peserta orang dewasa&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Buatlah forum/ kelompok untuk curhat, biarkan semua orang menceritakan semua yang dirasakannya, lalu tanggapilah oleh semua orang setiap cerita yang disampaikan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ajaklah untuk mendengarkan tausyiah/ pencerahan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buatlah hasta karya yang bermanfaat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Motivasi mereka untuk tetap melanjutkan kehidupan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ciptakan kelompok yang solid dengan saling tolong, saling bantu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika ada waktu senggang buatlah permainan dinamika kelompok (untuk membangun tim yang kompak/ out bound)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Suruhlah mereka untuk selalu mengevaluasi dan merefleksi diri setiap akhir hari, renungkan sikap dan aktifitas yg sudah dilakukan dalam sehari lalu diskusikan dengan kelompok dan pembimbing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga bermanfaat&lt;br /&gt;Ummi Rina Mutaqinah&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-115155917662401846?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/115155917662401846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=115155917662401846&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115155917662401846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115155917662401846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/06/pertanyaan-dari-ummi-faizah.html' title='Pertanyaan dari Ummi Faizah'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-115103501646180020</id><published>2006-06-22T20:23:00.000-07:00</published><updated>2006-06-22T21:23:15.270-07:00</updated><title type='text'>pertanyaan dari Z Riza untuk temannya</title><content type='html'>I am a British Muslim can you help me to answer my questions:I need some questions about divorce in Indonesia explained to me, And I'm turning to the forum for some help.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;I've read that a couple MUST go to consuling sessions to try to work out their problems before hand. What happens if the husband works out of the country for 8 months at a time?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Is there a standing amount or range for the amount of child support? Can it be sent directly to the courts so there is a record, the money has been paid?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;What happens when the husbands is away, Can he be represented by an attorney, and continue the divorce process? or must everything be put on hold until he returns?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I've read that the Indonesian courts look favorably at the husband in child custody issues,. Is this true?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;If the children remain with the mother, and financial support is sent, how does the courts keep track of this? How can someone be sure the monies that are sent are used for the support of the children and their education. This is a very big problem right now, monies that were to be used for education, were NOT paid to the schools. I suggested to send the money directly to the schools, is this possible?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Since the family is Muslim, and I understand they will also need a Talaq? is this hard to get? is it expensive?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;how long does an ugly ugly divorce take? the reason I ask, Is to get the children," family visas" before the turn 18, the youngest is 12 now. I begged the wife, to come here as well, so the children could go to school here in the USA, but she refused and will NOT allow the children out of the country... At what age do the children have a voice. to express their wishes?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;What is this international child support law? i've never heard of it before? How does it work? &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Z. Riza&lt;sayariza@gmail.com&lt;&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;You can go alone to the session while waiting the wife&lt;/li&gt;&lt;li&gt;There’s no standing amount, it depends child’s need. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;You can send in directly to child’s bank account or to whom responsible &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yes, it can be represented by the attorney&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Not really depend on judge in "Pengadilan Agama"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yes, it is OK, if you directly send it to the school&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Of course you have got &lt;em&gt;talaq&lt;/em&gt;, and it is not expensive,&lt;br /&gt;actually if the father is a foregeiner , the child coustady should on his father just ask your atorny about this. You have to come to "Pengadilan Agama"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;in international, it’s the same regulation&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Pengasuh&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-115103501646180020?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/115103501646180020/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=115103501646180020&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115103501646180020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115103501646180020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/06/pertanyaan-dari-z-riza-untuk-temannya.html' title='pertanyaan dari Z Riza untuk temannya'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-115103292172135896</id><published>2006-06-22T20:07:00.000-07:00</published><updated>2006-06-22T21:35:40.573-07:00</updated><title type='text'>Reading-Writing Skills For Kid</title><content type='html'>by Dana Sullivan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During 1st grade your child will learn to express herself with words, both spoken and written. She'll continue to read (or hear the teacher read) fiction, nonfiction, and poetry, but this year she'll be asked open-ended questions about the material to improve reading comprehension. Here are some specific reading and writing milestones you can expect your first grader to reach. Keep in mind that educational standards vary from state to state (even from one school district to the next) and that children develop at different rates, so your child may not do everything on this list.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Print uppercase and lowercase letters accurately&lt;br /&gt;• Print from left to right and to work from the top to the bottom of a page&lt;br /&gt;• Print her first and last name, with correct capitalization&lt;br /&gt;• Write clear and coherent sentences and paragraphs that develop an idea&lt;br /&gt;• Use adjectives when writing a sentence. ("The big brown dog chased my mom's car.")&lt;br /&gt;• Write several sentences about a specific experience, such as the best thing that happened to her over the weekend&lt;br /&gt;• Read about 100 words, especially common ones such as "have," "go," "said," "give," and "the"• Ask questions about something she's read&lt;br /&gt;• Recognize the difference between singular and plural nouns&lt;br /&gt;• Sound out unfamiliar words&lt;br /&gt;• Understand the difference between words, sentences, and paragraphs&lt;br /&gt;• Add, remove, or change sounds to change words — for example, changing "sun" to "run" and "cat" to "bat"&lt;br /&gt;• Read contractions, such as "don't," and some compound words, such as "rowboat"&lt;br /&gt;• Respond to "who," "what," "where," and "how" questions&lt;br /&gt;• Follow one-step written instructions&lt;br /&gt;• Figure out what unfamiliar words mean by thinking about the story in which it appears or the words around it&lt;br /&gt;• Use basic punctuation — for example, writing a sentence with the first letter of the first word capitalized and a period, exclamation point, or question mark at the end&lt;br /&gt;• Pronounce all the consonant and vowel sounds&lt;br /&gt;• Sound out consonant blends, such as cl and br, and digraphs like sh, ch, and th. (These skills will develop toward the end of the school year.)&lt;br /&gt;• Predict the subject of a book based on the cover illustration&lt;br /&gt;• Identify the main character, setting, and events after reading or hearing a story&lt;br /&gt;• Distinguish between truth and make-believe in a story&lt;br /&gt;• Read and explain her own writing and drawing&lt;br /&gt;• Read different types of literature such as fiction, nonfiction, and poetry&lt;br /&gt;• Identify ways in which stories she reads relate to her own life&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The teacher will ask your first grader to spend a big chunk of her reading time reading out loud. This gives her plenty of practice making consonant and vowel sounds. During reading periods the teacher will probably ask open-ended questions about the stories to help your child develop comprehension skills. She may try to bring the stories to life, too, by cooking a batch of green eggs and ham, for instance, on the day the class is reading the Dr. Seuss favorite.When your child starts to write complete sentences, the teacher might have her do "fill in the blank" exercises, such as completing the phrase "I feel happy when..." Some teachers encourage writing skills by asking students to keep a journal or to write down new words they've learned in class or at home.Quick reading comprehension testTo see if your first grader is moving from "learning to read" to "reading to learn," try this exercise from the &lt;a href="http://www.ed.gov/pubs/CheckFamilies"&gt;U.S. Department of Education.&lt;/a&gt; Ask your child to read the following excerpt from Franklin Is Bossy by Paulette Bourgeois. Then test her comprehension by asking her questions such as "What did Franklin do in his room?"In his room, Franklin built a castle. He made a cape to be brave in. He made shields and swords and suits of armor. He drew pictures. He played house. He read stories. He played by himself for one whole hour, and then he didn't know what to do. So, Franklin went looking for company. His friends were in the river, cooling off.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-115103292172135896?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/115103292172135896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=115103292172135896&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115103292172135896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115103292172135896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/06/reading-writing-skills-for-kid.html' title='Reading-Writing Skills For Kid'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-115085926520143460</id><published>2006-06-20T19:31:00.000-07:00</published><updated>2006-06-20T20:07:45.686-07:00</updated><title type='text'>Mengenal Otak Manusia</title><content type='html'>Kerja otak adalah misteri terbesar yang dianugerahkan Allah SWT dalam hidup kita. Secara hipotetikal prinsip kerja otak dapat digambarkan sebagai suatu sistem rumit yang melibatkan setiap tingkatan dalam struktur kehidupan&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Gordon Drayden dan Jeannette Vos, Ed.D dalam bukunya The Learning Revolution menyebutkan :&lt;br /&gt;1. Otak memiliki satu trilyun sel termasuk&lt;br /&gt;·        100 milyar sel syaraf aktif&lt;br /&gt;·        900 milyar sel lainnya yang menempel, memberikan makan dan mengisolasi sel-sel yang aktif&lt;br /&gt;2. Masing-masing dapat tumbuh hingga 20.000 cabang dan 100 milyar sel syaraf&lt;br /&gt;3. Memiliki tiga otak yang berbeda satu sama lainnya&lt;br /&gt;    - Otak insting&lt;br /&gt;    - Otak emosional&lt;br /&gt;    - Kulit otak yang menakjubkan&lt;br /&gt;4. Memiliki dua sisi yang bekerja selaras&lt;br /&gt;    - Otak ’akademik’ : otak bagian kiri&lt;br /&gt;    - Otak ’kreatif’ : otak bagian kanan&lt;br /&gt;5. Bekerja secepat/ seperti ”telephone exchange” yang mengumpulkan jutaan pesan dalam sedetik anatar sisi kiri dan sisi kanan&lt;br /&gt;6. Beroperasi pada sedikitnya 4 gelombang panjang&lt;br /&gt;7. Mengontrol sistim transmisi yang memantulkan pesan-pesan elektrik kimia dengan segera ke setiap bagian dari tubuh anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak tumbuh maksimum di usia 0 – 18 tahun, dan pertumbuhan yang pesat terjadi pada usia anak usia 0 – 5 tahun, para ahli mengatakannya sebagai The Golden Age (masa keemasan) sebab di usia ini otak tumbuh 90 % dann 100 % setelah anak berusia 18 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pertumbuhan dan perkembangan otak akan maksimal hanya jika anak mendapatkan rangsangan dari lingkungannya, rangsangan yang dimaksud adalah semua l obyek dan perlakuan yang didapat anak dari lingkungan yang melibatkan semua indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan indera pengecap. Semua alat indera ini harus dioptimalkan untuk menyerap semaksimal mungkin stimulus dari luar dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roger Sperry menemukan dua belahan otak manusia yang cara bekerjanya sangat berbeda. Otak kiri lebih rasional, dan otak kanan lebih emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paul MacLean menemukan konsep satu kepala tiga macam otak (triune brain). Pelatihan Superlearning merumuskan tiga macam otak tersebut sebagai: satpam otak (otak reptil), manajer otak (sistem limbik),&lt;br /&gt;dan direktur otak (neokorteks).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara “tirune brain” yang sangat penting dan berkaitan dengan kegiatan belajar-mengajar adalah otak tengah atau otak mamalia. Di sinilah tersimpan organ penting bernama amigdala. Inilah pusat kecerdasan emosi. Sebagaimana diketahui, kecerdasan emosi sangat berperan penting dalam membuat otak akademis atau IQ bekerja sangat efektif. Kecerdasan emosi juga adalah pengendali keadaan emosi. Ada emosi positif dan ada emosi negatif. Kecerdasan emosi dapat memola diri untuk senantiasa berada dalam balutan kebahagiaan. “Happiness is a choice,” ujar pelopor psikologi positif, Martin Seligman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kecerdasan otak, manusia diciptakan Tuhan untuk mampu mengatur diri, lingkungan dan dunianya.  Manusia bisa berperan mulia laksana malaikat namun juga bisa terdampar nista seperti layaknya binatang. Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semua itu terjadi, sekali lagi, berkat bantuan dan peran otak.  Oleh karena itu, tak disangsikan lagi, otak adalah senjata dan perbekalan yang demikian berharga yang dimiliki manusia selain tentunya qolbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sudah sepantasnya apabila manusia menyukuri karunia Tuhan tersebut dengan cara mempergunakannya dengan benar dan seoptimal mungkin.  Laksana belati, otak adalah peranti tubuh yang statis dan pasif.  Ia hanya akan tajam dan aktif apabila digunakan dan diasah sebaik mungkin.  Sebaliknya bila ia hanya dibiarkan telantar tanpa perawatan dan latihan yang memadai, ia pun lama-lama akan lumutan dan berkarat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-115085926520143460?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/115085926520143460/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=115085926520143460&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115085926520143460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115085926520143460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/06/mengenal-otak-manusia.html' title='Mengenal Otak Manusia'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-115008085204298586</id><published>2006-06-11T19:50:00.000-07:00</published><updated>2006-06-11T20:06:04.326-07:00</updated><title type='text'>Happiness is a Choice, by Barry Neil Kaufman</title><content type='html'>&lt;span style="color:#330000;"&gt;Dari Buku :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;&lt;strong&gt;HAPPINESS IS A CHOICE by Barry Neil Kaufman&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;She had just celebrated her thirty-seventh birthday. She came, she said, to work on anger and forgiveness. Her mother had conceived her after being raped by an acquaintance. Wounded and meek, the woman never filed any charges. Now the child of that act of violence wanted to make peace with what she called "the unthinkable."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Her own successful marriage, her delight in her two sons, and the enjoyment of a developing sales career had been dimmed by the gnawing anger she directed at phantom images of a man she had never seen. Initially, she considered her intense emotions as a cross of outrage she would bear the rest of her life. Then, she held on to the bitterness to protect herself and those she loved from such "subhuman" behavior as the rape of her mother. Finally, exhausted by pain, she wanted to somehow move beyond her narrow view and come to a new understanding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"This man has never seen me, though he knows I exist. He is old now, riddled with cancer. I have even located where he lives; I know his exact address. At first, when I found him I thought about cursing him or beating him with my fists. Oh, God, I want out of this misery and all I do is get myself deeper in. Instead of practicing peacefulness, I practice rage!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No one would fault this woman for her wrath. Some might even see justice in a finger-pointing confrontation with her "father." However, she knew she had been twice the victim: first, of a stranger's violence toward her mother and then of her own emotional violence toward herself. The first violence had passed years before; the second continued simmering inside.&lt;br /&gt;While exploring these issues, she came to a crucial awareness. "If I continue to see him as terrible, I will never let go. Never! I really have to look at this person differently for my own salvation.&lt;br /&gt;" She shook her head and sighed. "Okay. This will probably sound stupid, but the man's a human being isn't he?" She smiled. "I know, Bears, you won't give me the answers; I have to find them myself. Okay, then yes, I agree with myself; he's a human being. Violent, probably miserable, but still human like you and me.".&lt;br /&gt;"What does it mean to you to call him human?" I asked.&lt;br /&gt;"It means he's fallible. And it means I don't have to hate him forever. If I could just figure out how to let go of this anger, well, then I'd be free and at peace with myself."&lt;br /&gt;"How do you think you can let go of it?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Her eyes closed as she covered her face with her hands. In a muffled voice, she said "I know how to do it, I really do. Forgiving him would be letting go." With those words she began to cry. In subsequent sessions and in dialogues with her own husband, she formulated a plan of action which would change her life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two weeks later, she flew to a remote Midwestern city, rented a car, and drove hundreds of miles to a small rural village. She telephoned this man's younger daughter, the product of an eventual marriage, and introduced herself without referring directly to the rape. The other woman hesitated, then refused to invite her to the old man's home. She announced that she would come anyway; they could turn her away at his door if they wanted.&lt;br /&gt;Old paint peeled off the side of the house. Shutters hung askew beside blackened windows. As she walked along a dirt path to the front door, she saw the woman who must have spoken with her on the phone standing on the porch with her arms crossed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I won't stop you," the woman, declared coldly, then stepped aside while maintaining her obvious vigil.&lt;br /&gt;After she knocked on the door several times, a man's voice told her to enter. One small lamp cast its dim light over the room. An old man, his shoulders hunched into his chest, sat quietly in a wooden chair. The deep lines on his face seemed chiseled by a crude and unforgiving knife. His reddened eyes peered at her uncomfortably. When he gestured for her to sit, his physical pain became apparent.&lt;br /&gt;"I know who you are," he said in a whisper.&lt;br /&gt;She couldn't talk. He was just a man, old and dying, nothing like the phantoms that had whirled in her mind. She struggled to find her voice. She had rehearsed the words hundreds of times on the plane. It's just a decision, she told herself.&lt;br /&gt;Finally, in a whisper that matched his, she said: "I forgive you. I really do."&lt;br /&gt;He nodded his head several times and then looked away. In a voice more audible, he said, "I'm sorry."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She rose to her feet. Just a human being, she thought, like me. Then she surprised herself by putting her arms around him. She had truly forgiven him. His words of apology had no meaning for her now; it was her new vision that had made her whole.&lt;br /&gt;A vision (a frame of reference or viewpoint) is like an invisible friend we invent to help us make sense of unfolding circumstances. We create visions for the best of reasons: to protect ourselves, to honor those we love and to express caring. But we do not have to become prisoners of our perspectives; we can change them and our lives by developing a completely new world picture ... one human step at a time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Our Beliefs Create Our World Picture, Which We Then Transmit to Others&lt;/strong&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;As individuals, each of us becomes a force within a shared field of ideas and visions. Two powerful aspects of our interactions can be discerned easily. First, we can acknowledge ourselves as receivers. We see, we hear, we smell, we taste, we touch and we consume and digest beliefs. Much like a television set, we receive a variety of signals. But now we can recognize our authority over the tuner or channel changer and ask ourselves what messages we want to invite into our homes and our minds. We are not talking about censorship or putting blinders on; we are speaking of exercising more consciously our right to determine the types of inspirations we want to bring into our lives.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition to receiving, we transmit our ideas and visions. As transmitters, we can be seen as similar to a television or broadcasting station. Our lives become beacons, communicating the attitudes we assume, the beliefs we create and the actions we take. We become more than role models; we seed the field of human experience with our perspectives and deeds.&lt;br /&gt;A thirty-year-old mother, who had arranged private, individual sessions for herself and for her child at our learning center, asked in agony why her adolescent son would actually lift his hand to her and threaten bodily assault. When questioned gently and without judgments, the boy explained his action quite openly. Since his mother hit him and his sister to express her disapproval, he similarly used the threat of force to express his resistance to her.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parents ask many questions about the perplexing behavior of their children. "Why does she complain all the time?" "Why does he shout angrily when he doesn't get his way?" "How come my child seems so ungrateful?" Although children learn from the media, friends and their own experiences, often the lessons learned at home have the most impact. We can use the behaviors of those around us to stimulate questions about our own transmissions. Do we complain? Do we shout? Do we fail to express gratitude? Our answers tell us not only what we teach those around us but also what we put into the human collective and reinforce for others as well as ourselves. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Our beliefs and attitudes not only bubble to the surface in our feelings and behaviors but also are apparently transmitted on subtle levels as well. Once, when working with a nonverbal special child, we introduced a volunteer into the room as an observer. The child withdrew almost immediately from participating with her regular teacher and scurried across the room, clearly putting distance between herself and this new arrival. When the volunteer left, the child rejoined her teacher and participated easily and joyfully once again. Later, when I questioned the young man about his experience as an observer, he admitted feeling exceedingly uncomfortable and judgmental of the little girl's wild head movements and hand flapping.&lt;br /&gt;We have noticed over and over again that nonverbal children rely on their ability to pick up attitude "transmissions" even when the initiator camouflages his or her discomforts with smiles. They know. They have a capacity, akin to radar, to pick up non-visible signals. Words, even actions, do not distract them from getting a quick "fix" on a person's level of comfort. We all have that same capacity, but, unlike the special child, we have not maximized our skill. Many times, as verbal people, we focus on words alone. Yet on other occasions, we do "read" between the lines and take in data communicated less overtly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The power of our beliefs and visions shape the character of our personal realities and impact on others around us. Recent scientific studies suggest that the "reach" of belief transmissions might go beyond anything we have ever imagined.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A contemporary biologist has noted a community of shared information among species, which he calls morphogenetic fields. Essentially, his unfolding theory suggests that species, even groups of species, share an invisible and intangible communications field which can be observed and tested.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Early experimental efforts to teach rats to move through mazes yielded some startling results. The first group of rats performed endless trial-and-error rituals before finding their way through the maze. They succeeded at the task only with great difficulty. The second group of rats appeared somewhat more proficient. Subsequent experiments with genetically unrelated groups of rats, who had never before seen such mazes moved through the mazes as if they had been pre-trained. Somehow training some members of the species impacted on the abilities of all the others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In other research, a group of behaviorists took pigeons, believed to be quite uneducable, and tried a behavioral approach to teach them to peck on lighted panels in what became known as the Skinner box. Initially, it took a long teaching period to train the pigeons to just begin the pecking. Researchers find that pigeons now peck at lighted panels easily and quickly. Some people claim now that anyone could go to any city in the world, coax a pigeon into a Skinner box, and, in short order, perhaps only minutes, teach the creature to peck on lighted panels - a humorous suggestion about an outrageous yet testable reality. Teach one or more of a species and all the members begin to learn the lesson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The implications escalate when we ask if our transmissions are confined to species within the animal kingdom. In 1966, one of the foremost experts on polygraph machines (lie detectors) tried a unique experiment. One morning, in his office, rather than hooking his lie detector to a person, he attached the electrodes to the palmlike leaves of a plant. His initial printout from the plant matched similar ones he had recorded when testing people at rest. He knew an individual under stress, frightened or agitated, would cause changes in the meter readings of the polygraph. Could he produce a similar response from plants?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He proceeded to water the plant to see if there was a measurable impact on the polygraph. There was no significant difference. Perhaps the analogy he hoped to demonstrate had no basis, he thought. However, he decided to escalate the experiment and precipitate stress by introducing a hot cup of coffee and dipping the leaves of the plant into the scalding liquid. Again, the reading did not register any significant change. He fantasized about what act he could perform to trigger a response in the plant if that was, indeed, possible. He considered finding matches and actually burning the leaves. As he rose from the chair to execute his idea, he noticed the readout on the polygraph moving frenetically. In subsequent experiments, he demonstrated repeatedly that his violent visualizations affected the foliage and plant life around him. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;We could conclude from these studies that all living things communicate with each other through intelligence or morphogenetic fields. The implications are staggering. What each of us learns has the potential of becoming a message to all humankind and, perhaps, to all other life forms as well. Each life has profound significance.&lt;br /&gt;A new question now arises. If we want to be happy and support a universe that nurtures such an endeavor, what data would we want to feed into the human collective? What would we want to engender and reinforce? What gifts of awareness, what deeds, would we want to give our children, our friends, our lovers, our parents, our community, humankind, the animals, the plants, even the rocks? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Whatever we put into the river will mix in the current and bounce back to us. If just one of us changes our beliefs and teaches happiness and love, then that attitude or information goes into the connective tissue of the community and enhances the aptitude for happiness of the entire human group. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;People spend years, even lifetimes, rummaging through old memories and philosophies accumulated throughout the centuries in the pursuit of happiness or the promised land (where people are happy, loving and peaceful). The answer lies not behind us. We have to look forward toward a new vision that we can create - not merely in our lifetime, but right now! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;&lt;strong&gt;The Way We Look at Life Determines Our Experience&lt;/strong&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Such a simple insight presents each of us with an opportunity to make momentous changes in our lives. The only limits are the ones we create!&lt;br /&gt;We can ask a new kind of question: not simply inquiring into "what is" but inquiring into what we want and what grasp of the universe would nurture and support a choice to be happier, more loving, more peaceful and more secure. Can we move away from the contemporary cauldron of pessimism to find a more useful and inspiring point of view? Rather than wait for a pie-in-the-sky apocalyptic event, we can take charge of our own evolution by changing our world view now.&lt;br /&gt;The current cultural paradigm - the frame of reference from which we view the events unfolding locally and in our global village - suggests a scourge upon the land, with brother fighting brother, new diseases sweeping like plagues through generations of people, poverty and famine snarling at the doorsteps of human dignity, and a general ecological malaise hanging like a frightening veil over the planet's future. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Current events, as depicted by the news media, bombard our consciousness with one catastrophe after another, reinforcing a "victim" mentality. Reporters and newscasters endlessly parade, for our literary or visual consumption, the bodies of those killed, maimed or noticeably diminished by war, disease, violent crime, economic recession, poor parenting, drug or alcohol addiction, sexual abuse, food poisoning, train wrecks, air crashes, automobile collisions, tornadoes, hurricanes., floods and the like. Although we remain attentive, we numb ourselves, trying to put some distance between us and the brutality of those onslaughts. In the evening, we wonder how we made it through the day in one piece or, worse yet, how we will survive the unseen catastrophes of tomorrow. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;We could decide, flat out, to stop watching and listening to the news ... and to stop reading it, too. We have made an addiction out of being "informed," as if knowledge of disasters could somehow contribute to our sense of well-being and serenity. Our lives will never be enriched by the gloomy pronouncements of unhappy people, fearing and judging all that they see. They follow fire engines racing toward billowing black clouds of smoke and ignore the smiling youngster helping an elderly woman carry her grocery bags. One dramatic traffic accident on a major highway sends reporters scurrying, while the stories of four hundred thousand other vehicles that made it home safely go unnoticed. Newscasters replay over and over again a fatal plane crash captured on videotape but rarely depict the tenderness of a mother nurturing her newborn infant. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Simple acts of love, safe arrivals, peaceful exchanges between neighboring countries and people helping each other, are noteworthy events. The media bias toward sensationalism and violence presents a selective, distorted and, in the final analysis, inaccurate portrait of the state of affairs on this planet. No balance here. We feed our minds such bleak imagery, then feel lost, depressed and impotent without ever acknowledging fully the devastating impact these presentations have on our world view and our state of mind. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Why not inspire ourselves rather than scare ourselves? We choose our focuses of attention from the vast menu of life's experiences. Wanting to be happy and more loving on a sustained basis directs us to seek peaceful roads less traveled. Though we might not determine all the events around us, we are omnipotent in determining our reaction to them. Some of us will live on the earth's crust searching for horror; others will lift the stones and see beauty beneath. Our embrace of life will be determined not by what is "out there," but by how we ingest what is "out there." Our view becomes almighty. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;What we have been taught about ourselves and the universe around us conspires to have us believe that living requires awesome energy and great struggle. "No pain, no gain," we are told. "Life is a constant struggle." "You have to take the bad with the good." "You never really get what you want." "You're unlovable." "Something is wrong with you " (although it's never quite identified, you know it's there). "There is no justice." "No one cares." "Look over your shoulder and beware!" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;These become communal mantras, shared with others and elevated to the status of treasured folklore. They color our vision and send us searching for the experience (rejection, attack, indifference) that we anticipate. Usually we find it! Our vision blossoms into a self-fulfilling prophesy, which each new experience tends to verify and reinforce. I never met a man who lived forever. I also never met a man who believed he could live forever. We become our beliefs. We get stuck in our heads. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Suppose we set aside the rigid concepts we might have learned about how the universe works. If we can now begin to entertain the possibility of many world pictures, then we might want to experiment by putting aside a logical, linear view of existence with fixed points and "hard facts" and consider a metaphor which reveals the ever-changing nature of the known universe.&lt;br /&gt;We swim in a river of life. We can never put our foot into the river in the same place twice. In every second, in every millisecond, the water beneath us changes. Likewise, in every second, in every millisecond, the foot that we place into the river fills with new blood. Instead of celebrating the motion, we try to hold on to the roots and stumps at the bottom of the river, as if letting go and flowing with it would be dangerous. In effect, we try to freeze-frame life in still photographs. But the river is not fixed like the photograph and neither are we. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Ninety-eight percent of the atoms of our bodies are replaced in the course of a year. Our skeleton, which appears so fundamentally stable and solid, undergoes an almost complete transition every three months. Our skin regenerates within four weeks, our stomach lining within four days and the portion of our stomach lining which interfaces with food reconstructs itself every four or five minutes. Thousands, even millions, of neurons in our brain can fire in a second; each firing creates original and distinct chemistry as well as the possibility for new and different configurations of interconnecting signals. As billions of cells in our bodies keep changing, billions of stars and galaxies keep shifting in an ever-expanding space. Even the mountains and rocks under our feet shift in a never-ending dance through time. Life celebrates itself through motion and change. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Although we can certainly see continuity - seasons come and go, trees grow taller and people get older - we can acknowledge that each unfolding moment, nevertheless, presents a world different from that of the last moment. We could say that we and the world are born anew in every second and our description would be accurate scientifically. Therein lies an amazing opportunity for change. We can stop acting as if our opinions and perspectives have been carved in granite and begin to become more fluid, more open and more changeable, even inconsistent. We are in the river. We are the river! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Every stroke we make, every thought or action we produce, helps create the experience of this moment and the next. And the beliefs we fabricate along the way shape our thoughts and actions. Sounds rather arbitrary, some might say. It is! Quite simply, we try to move toward what we believe will be good for us and away from what we believe will be bad for us - operating always within the context of our beliefs. Even our hierarchies of greater "goods" and greater "bads" consist only of more beliefs. We hold our beliefs sincerely and defend our positions with standards of ethics or "cold, hard facts." We treat much of what we know and believe as irrefutable. We talk in absolutes. Once our beliefs are in place, we use all kinds of evidence to support them, quite unaware that we have created the evidence for the sole purpose of supporting whatever position we favor. In essence, we have become very skilled at "making it up." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Our Beliefs Create Our World Picture, Which We Then Transmit to Others. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;As individuals, each of us becomes a force within a shared field of ideas and visions. Two powerful aspects of our interactions can be discerned easily. First, we can acknowledge ourselves as receivers. We see, we hear, we smell, we taste, we touch and we consume and digest beliefs. Much like a television set, we receive a variety of signals. But now we can recognize our authority over the tuner or channel changer and ask ourselves what messages we want to invite into our homes and our minds. We are not talking about censorship or putting blinders on; we are speaking of exercising more consciously our right to determine the types of inspirations we want to bring into our lives. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;In addition to receiving, we transmit our ideas and visions. As transmitters, we can be seen as similar to a television or broadcasting station. Our lives become beacons, communicating the attitudes we assume, the beliefs we create and the actions we take. We become more than role models; we seed the field of human experience with our perspectives and deeds. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;A thirty-year-old mother, who had arranged private, individual sessions for herself and for her child at our learning center, asked in agony why her adolescent son would actually lift his hand to her and threaten bodily assault. When questioned gently and without judgments, the boy explained his action quite openly. Since his mother hit him and his sister to express her disapproval, he similarly used the threat of force to express his resistance to her. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Parents ask many questions about the perplexing behavior of their children. "Why does she complain all the time?" "Why does he shout angrily when he doesn't get his way?" "How come my child seems so ungrateful?" Although children learn from the media, friends and their own experiences, often the lessons learned at home have the most impact. We can use the behaviors of those around us to stimulate questions about our own transmissions. Do we complain? Do we shout? Do we fail to express gratitude? Our answers tell us not only what we teach those around us but also what we put into the human collective and reinforce for others as well as ourselves. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Our beliefs and attitudes not only bubble to the surface in our feelings and behaviors but also are apparently transmitted on subtle levels as well. Once, when working with a nonverbal special child, we introduced a volunteer into the room as an observer. The child withdrew almost immediately from participating with her regular teacher and scurried across the room, clearly putting distance between herself and this new arrival. When the volunteer left, the child rejoined her teacher and participated easily and joyfully once again. Later, when I questioned the young man about his experience as an observer, he admitted feeling exceedingly uncomfortable and judgmental of the little girl's wild head movements and hand flapping. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;We have noticed over and over again that nonverbal children rely on their ability to pick up attitude "transmissions" even when the initiator camouflages his or her discomforts with smiles. They know. They have a capacity, akin to radar, to pick up non-visible signals. Words, even actions, do not distract them from getting a quick "fix" on a person's level of comfort. We all have that same capacity, but, unlike the special child, we have not maximized our skill. Many times, as verbal people, we focus on words alone. Yet on other occasions, we do "read" between the lines and take in data communicated less overtly. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;The power of our beliefs and visions shape the character of our personal realities and impact on others around us. Recent scientific studies suggest that the "reach" of belief transmissions might go beyond anything we have ever imagined.&lt;br /&gt;A contemporary biologist has noted a community of shared information among species, which he calls morphogenetic fields. Essentially, his unfolding theory suggests that species, even groups of species, share an invisible and intangible communications field which can be observed and tested. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Early experimental efforts to teach rats to move through mazes yielded some startling results. The first group of rats performed endless trial-and-error rituals before finding their way through the maze. They succeeded at the task only with great difficulty. The second group of rats appeared somewhat more proficient. Subsequent experiments with genetically unrelated groups of rats, who had never before seen such mazes moved through the mazes as if they had been pre-trained. Somehow training some members of the species impacted on the abilities of all the others. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;In other research, a group of behaviorists took pigeons, believed to be quite uneducable, and tried a behavioral approach to teach them to peck on lighted panels in what became known as the Skinner box. Initially, it took a long teaching period to train the pigeons to just begin the pecking. Researchers find that pigeons now peck at lighted panels easily and quickly. Some people claim now that anyone could go to any city in the world, coax a pigeon into a Skinner box, and, in short order, perhaps only minutes, teach the creature to peck on lighted panels - a humorous suggestion about an outrageous yet testable reality. Teach one or more of a species and all the members begin to learn the lesson. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;The implications escalate when we ask if our transmissions are confined to species within the animal kingdom. In 1966, one of the foremost experts on polygraph machines (lie detectors) tried a unique experiment. One morning, in his office, rather than hooking his lie detector to a person, he attached the electrodes to the palmlike leaves of a plant. His initial printout from the plant matched similar ones he had recorded when testing people at rest. He knew an individual under stress, frightened or agitated, would cause changes in the meter readings of the polygraph. Could he produce a similar response from plants? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;He proceeded to water the plant to see if there was a measurable impact on the polygraph. There was no significant difference. Perhaps the analogy he hoped to demonstrate had no basis, he thought. However, he decided to escalate the experiment and precipitate stress by introducing a hot cup of coffee and dipping the leaves of the plant into the scalding liquid. Again, the reading did not register any significant change. He fantasized about what act he could perform to trigger a response in the plant if that was, indeed, possible. He considered finding matches and actually burning the leaves. As he rose from the chair to execute his idea, he noticed the readout on the polygraph moving frenetically. In subsequent experiments, he demonstrated repeatedly that his violent visualizations affected the foliage and plant life around him. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;We could conclude from these studies that all living things communicate with each other through intelligence or morphogenetic fields. The implications are staggering. What each of us learns has the potential of becoming a message to all humankind and, perhaps, to all other life forms as well. Each life has profound significance. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;A new question now arises. If we want to be happy and support a universe that nurtures such an endeavor, what data would we want to feed into the human collective? What would we want to engender and reinforce? What gifts of awareness, what deeds, would we want to give our children, our friends, our lovers, our parents, our community, humankind, the animals, the plants, even the rocks? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;Whatever we put into the river will mix in the current and bounce back to us. If just one of us changes our beliefs and teaches happiness and love, then that attitude or information goes into the connective tissue of the community and enhances the aptitude for happiness of the entire human group. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;People spend years, even lifetimes, rummaging through old memories and philosophies accumulated throughout the centuries in the pursuit of happiness or the promised land (where people are happy, loving and peaceful). The answer lies not behind us. We have to look forward toward a new vision that we can create - not merely in our lifetime, but right now!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-115008085204298586?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/115008085204298586/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=115008085204298586&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115008085204298586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/115008085204298586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/06/happiness-is-choice-by-barry-neil.html' title='Happiness is a Choice, by Barry Neil Kaufman'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-114543093125818591</id><published>2006-04-19T00:05:00.000-07:00</published><updated>2006-04-19T00:15:31.586-07:00</updated><title type='text'>Tempertantrum</title><content type='html'>&lt;span style="color:#660000;"&gt;Oleh : Rina M. Taufik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Dulu ketika masih usia 3 tahun zaki anakku yang sulung sering ngamuk, nangis engga karuan begini salah, begitu salah, bukan yang ini, bukan yang itu,…sesekali kepalanya ia bentur2 kan ke dinding….kalau sudah begini aku suka bingung maunya apa…aku sering bertanya pada beberapa teman tapi jawabannya tidak ke subtansi masalah. Alhamdulillah Allah mempertemukan aku dengan Zaonaina Yuhaditsi yang  beberapa tahun belakangan aku akrab dengan beliau. Tidak seperti dugaan teman2 beliau orang yang bersahaja, orang yang memiliki semangat hidup yang sangat tinggi, sikapnya yang tegas, jelas, lugas (mirip motto Media Indonesia…he..he..) ada yang menyatukan kami yaitu  kesungguhannya untuk konsen di dunia pendidikan, kami sama2 orang yg memiliki kepeduliaan terhadap pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering bertukar pikiran dengannya tentang berbagai hal…tentang anak yang suka ngompol, anak yang suka ngemut jari, anak yang suka ngamuk…….dan kami pun sering mendiskusikan isi buku tentang psikologi anak atau majalah yang berkenaan tentang itu seperti  Ayahbunda&lt;br /&gt;Dari beberapa obrolan kucoba tulis mengenai temper tantrum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temper tantrum………….&lt;br /&gt;Nama yang aneh bukan….(kalo temanku bilang…mahluk apa temper tantrum itu….)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temper tantrum adalah mengamuk, amarah yang meledak-ledak yang sering terjadi pada usia 2-4 tahun di saat mereka ingin menunjukkan kemandirian dan sikap negativistiknya, biasanya amukan ini merupakan jeritan, tangisan, membentur-benturkan kepala, memukul-mukul,menyepak, berguling-guling dan kekakuan tubuh ( dalam basa sunda namanya  jejengkeng)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyebab??&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;1. Terlalu lelah&lt;br /&gt;Jangankan anak orang tua pun sama jika kondisi kita sedang lelah/cape (meminjam istilah teman…rungsing….) kita sulit untuk mengendalikan emosi kita, oleh karena itu cegahlah anak untuk tidak terlalu cape, pastikan anak cukup tidur dan makan. Jika anak kita terlihat tegang ajarkan relaksas dengan cara menarik nafas atau mengajaknya bercanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keinginan tidak terpenuhi&lt;br /&gt;Balita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, eksplorasi, gemar bertanya tentang ini dan itu,  dan keinginan untuk selalu mencoba banyak hal termasuk keinginan-keinginan yang tidak masuk akal. merupakan cirri utama masa kanak-kanak. Kadang-kadang ada permintaan atau keinginan2 yg sulit dikabulkan, sehingga memicu anak untuk temper tantrum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;3. Frustasi&lt;br /&gt;(hehehe..ternyata anak2 kenal juga prustasi ya…) gagal melakukan sesuatu akan membuat anak2 kecewa dan emmicu meraka untuk mengamuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;4. Keterbelakangan Mental&lt;br /&gt;Anak yang mengalami keterbelakangan mental misalnya anak dengan gangguan bicara, pada saat ia kesulitan mengungkapkan keinginannya, ia pun akan temper tantrum&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;5. Ada contoh (melihat orang lain)&lt;br /&gt;Orang yang terdekat dengan anak tentunya akan menjadi rujukan mereka dalam bersikap, misalnya orang tua yang tidak bisa mengendalikan emosi, mudah marah dalam menghadapi masalah akan membuat anak-anak mencontoh perilaku kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;6. Factor kondisional&lt;br /&gt;Situasi yang sangat tidak menyenangkan yang dialami anak misalnya seperti kesal dengan teman yang sering meledek, atau keasyikan bermain terganggu karena orang tua memaksa melakukan sesuatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;strong&gt;Penanganan??&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada 10 cara menangani temper tantrum&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1.&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;strong&gt;Hadapi dengan tenang&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Hadapi anak dengan tenang, kendalikan emosi kita (….ingat kita sedang berhadapan dengan anak yg akan meniru prilaku kita…)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;strong&gt;Abaikan amukan anak&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Buatlah anak sadar bahwa perbuatannya sia-sia (dicuekin gitu lho…..) ketika kita membiarkannya jangan sekali-kali melihat kearahnya, karena satu lirikan saja tertangkap oleh anak bias menjadi alas an bagi anak untuk meningkatkan intensitas amukannya, jadi berlagaklah tak acuh.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Ulangi perintah/ memperjelas perintah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hentikan amukan anak dengan memperjelas dan mengulang perintah, mungkin tangisan anak akan mengeras tapi jangan pedulikan tangisannya, misalnya jika kamu mau ikut ibu, mandi dulu …atau hentikan dulu tangisanmu….(jika penyebabnya anak ingin ikut ibu….)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Gunakan time out&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dudukkan anak di kursi/ sudut ruangan dan sebelumnya katakan “kamu boleh ngamuk tapi kalau kesal ibupun boleh mengamuk seperti kamu, diamlah…) lalu awasi dari kejauhan reaksinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;strong&gt;5. Pegang dan peluk&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Seringkali anak mengamuk dengan melakukan hal yang berbahaya, bagi dirinya maupun orang lain, peluklah anak dari belakang dan segera bawa ke tempat yang tenang dan aman. Begitup anak mengendurkan agresivitasnya kita pun kendurkan pelukan kita, kemudian ajaklah ia bicara dari hati ke hati dengan suara yang rendah dan lembut, hendari kata-kata mengancam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;strong&gt;6. Lebih mendekatkan diri pada anak&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bila anak nampak sedih, kecewa dan frustasi berilah saran tentang jalan keluar masalahnya dan biarkan ia menentukan yang mana yang akan ia ambil&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;strong&gt;7. Perkuat dengan hadiah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Beri anak perlakuan ekstra jika berkelakuan manis namun hindari kata2” baguslah kamu tidak mengamuk..” tapi katakan “ Ibu senang kamu mau mendengarkan ibu…oleh karena itu ambillah es krim ini”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;strong&gt;8. Ajak anak bicara dari hati ke hati&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Berbicaralah dengan anak, sampaikan bagaimana perasaan kita dan terhadapnya dan gambarkan bagaimana perasaan kita dan dia ketika mengamuk&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;strong&gt;9. Ajarkan anak bicara dengan dirinya sendiri&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ajarkan anak untuk menetralkan amarah dengan cara berkata-kata pada diri sendiri tentang kemarahannya dan bagaimana ia mengendalikannya misalnya “..Tono memang menyebalkan tapi tak apalah mungkin ia habis dimarahi bapaknya…”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;strong&gt;10. Lupakan anak pernah mengamuk&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ajaklah anak bermain kembali seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa, tak usah menyebut-nyebut amukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahualam …………&lt;br /&gt;Kita harus belajar mengendalikan emosi karena kita sedang berhadapan dengan calon pemimpin bangsa masa depan yg butuh uswah dari kita……….&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-114543093125818591?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/114543093125818591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=114543093125818591&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/114543093125818591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/114543093125818591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/04/tempertantrum.html' title='Tempertantrum'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-114543000283694209</id><published>2006-04-18T23:56:00.000-07:00</published><updated>2006-04-19T00:05:24.123-07:00</updated><title type='text'>Toilet Training</title><content type='html'>Oleh Rina M.Taufik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tidurnya yang lelap dan kadang-kadang tersenyum ….kucoba menebak mimpi yang tengah berlangsung , ia mungkin sedang menyanyi, nari di atas meja ‘oshin’ yang sering ia lakukan sambil memegang potongan kaki boneka yang dianggapnya sebagai mic…”..cicak-cicak…di tintin yam yam rayap datang ekor muk…lalu tttangkap..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah anakku sayang, aku terus memandanginya ada bulu-bulu halus di pangkal dahinya wajahnya bersih, polos tanpa dosa….yang akan membuat siapapun senang melihatnya. Temanku bilang anak adalah pelipur lara, obat stress dan depresi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru ku sadari kalau ia sudah 23 bulan lebih 2 minggu ……ya Allah aku lupa…menurut buku yang kubaca sudah saatnya ia berlatih ke toilet. Selain anakku aku mengingat Naki, Syifa, Siddiq dan WTC (Wafa Tsabitah Qorina….) anak saudaraku yang sebaya dengan anakku. Apa Ibu mereka pun lupa seperti aku…..???????????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Toilet Training&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adalah latihan mengontrol buang air, usia yang tepat untuk berlatih sekitar 18-24 bulan sangat tergantung pada perkembangan beberapa otot tertentu , minat dan kesadarannya akan’basah’yang bersumber dari tubuhnya, sehingga ia mulai sadar bahwa ada hubungan antara genangan air dengan dengan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak sudah memiliki kesadaran seperti itu maka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kenalkan apa yang disebut dengan ‘pipis’ dan buang air besar&lt;br /&gt;Menjelaskan dengan gambar akan lebih bermakna dan anak tertarik, gambar proses terjadinya kencing dan feces (…banyak buku yang memperlihat itu…misalnya WWP, buku Pengetahuan Tubuhmu dari PT Mandira untuk anak dan banyak lagi) berceritalah kepada mereka biarkan ia melihat dan mendengarkan kita (walaupun anak seusia ini tidak focus dalam mendengarkan kita tapi telinganya kan bolong…., artinya otaknya siap menerima informasi dari kita)&lt;br /&gt;2. Pesankan jika sudah terasa mau buang air bilang “mama mau pipis….or …eo…”&lt;br /&gt;3. Biasakanlah untuk membawa anak kita ke jamban pada jam-jam tertentu (berdasarkan kebiasaan, lakukan pengamatan setiap berapa lama anak buang air) jam yang hampir tiap anak sama adalah pada saat bangun tidur dan sebelum tidur&lt;br /&gt;4. Belilah pispot untuk anak (bila perlu) , dudukanlah ia diatasnya&lt;br /&gt;5. Belilah celana yang sederhana yang memudahkannya untuk membuka ia ia terasa mau buang air.&lt;br /&gt;6. Bersikaplah santai menghadapinya dan jangan sekali-kali memaksanya&lt;br /&gt;7. Berilah pujian pada setiap sikap yang positif dan lupakanlah kegagalan anak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-114543000283694209?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/114543000283694209/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=114543000283694209&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/114543000283694209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/114543000283694209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/04/toilet-training.html' title='Toilet Training'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-114533085943573139</id><published>2006-04-17T20:20:00.000-07:00</published><updated>2006-04-17T20:28:48.186-07:00</updated><title type='text'>Percekcokan Dalam Rumah Tangga Bernilai Ibadah ? Benarkah ?</title><content type='html'>&lt;span style="color:#660000;"&gt;Oleh Rina M. Taufik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;"&lt;em&gt;Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui&lt;/em&gt;." (QS. An Nuur (24) : 32).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Salah satu anjuran Rasulullah untuk Menikah :&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda: &lt;em&gt;"Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !&lt;/em&gt;"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan menyatukan dua energi besar untuk sama-sama berjuang menggapai ridlo Allah SWT. Penyatuan energi sehingga membentuk suatu sinergi tentunya membutuhkan waktu untuk saling menyesuaikan diri. Dalam proses penyesuaian itulah akan banyak ditemui ketidakcocokan, pergesekan yang menimbulkan konflik dari masing –masing pasangan. Betapa tidak masing-masing memiliki latar belakang budaya, kebiasaan, karakter yang berbeda untuk diselaraskan sesuai dengan keinginan Allah SWT dalam sebuah pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar konflik dan masalah dalam berrumah tangga dapat diminimalisir maka setiap pasangan harus memiliki pengetahuan yang cukup sebelum mereka memasuki jenjang pernikahan, sehingga dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka sudah siap menghadapi goncangan, pergesakan dan hambatan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;strong&gt;Pernikahan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan adalah konsep sakral dari sebuah kontak (ijab Qobul) secara syah yang dilakukan oleh pasangan lelaki dan perempuan sesuai tata nilai hukum yang berlaku, baik hukum positif maupun hukum religius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima. Ijab qabul adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa:Sahl bin Said berkata: "&lt;em&gt;Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: "Saya serahkan diriku kepadamu.&lt;/em&gt;" Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: "&lt;em&gt;Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya." Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda: "Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu&lt;/em&gt;." (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum tujuan suatu penikahan menurut Islam adalah untuk mencapai ridho Allah, secara khusus yakni :&lt;br /&gt;1. Mengabdi ke hadapan Allah.&lt;br /&gt;2. Malaksanakan sunnah Rasulullah.&lt;br /&gt;3. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.&lt;br /&gt;4. Membentuk suatu masyarakat islami.&lt;br /&gt;5. Mendapatkan ketenangan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&lt;/em&gt;". (QS At-Taubah: 71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;strong&gt;Percekcokan dalam Rumah Tangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam suatu interaksi dua manusia yang berlatar belakang beda baik secara kultur, karakter dan gaya hdup sudah dapat dipastikan tidak akan lepas dari suatu pergesekan nilai dan kebiasaan, sehingga menimbulkan suatu percekcokan.Hal ini sangat wajar dan manusiawi, jangankan pasangan seperti kita manusia biasa, rumah tangga Rasulullah pun tidak lepas dari percekcokan, yang membedakannya dengan kita Rasulullah memiliki akhlaq yang mulia dan dibimbing oleh Allah untuk menjadi contoh bagi ummatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak keluarga muslim yang hanya karena masalah kecil mengakhiri pernikahan, suatu ikatan yang telah Allah kokohkan. Masalah bisa saja hanya bermula dari salah persepsi karena komunikasi yang tidak lancar sehingga menimbulkan salah pengertian atau mungkin kebiasaan kecil suami yang tidak disukai isteri atau juga ketidaktepatan mengekspresikan emosi seperti kecewa, marah. Semuanya bisa saja terjadi hanya saja ada pasangan yang mampu mengatasi masalah kecil tersebut dengan baik ada juga yang tidak mampu menyelesaikannya sehingga masalah kecil tersebut menumpuk dan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan bahtera rumah tangga yang sedang dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor penyebab terjadinya percekcokan dalam rumah tangga adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;strong&gt;Kurang lancarnya komunikasi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Komunikasi menjadi bagian yang sangat penting dalam berrumah tangga, bagaimana mungkin masing-masing pasangan mengetahui keinginan dan harapan pasangannnya kalau tidak adanya komunikasi yang baik sehingga keinginan dan harapan tersampaikan dan tidak salah persepsi. Seorang suami atau isteri hendaknya menyampaikan pesan dengan lembut dan baik, tentunya dengan mempertimbangkan pula waktu dalam menyampaikan pesan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami yang baru saja pulang kerja dengan badan yang lelah dan perut yang lapar tidak mungkin seorang isteri menyampaikan keluhannya sepanjang siang itu, tapi harus menunggu waktu yang tepat dimana suami dalam keadaan yang santai dan tenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Kurangnya pengetahuan/ ilmu&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Sebelum memasuki jenjang berrumah tangga calon suami atau isteri sebaiknya menggali dan menyempurnakan ilmu tentang pernikahan, dengan ilmu maka kita akan paham seperti apa rumah tangga yang dicontohkan Rasulullah dan bagaimana melajukan bahtera di tengah lautan kehidupan yang bergelombang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;3. Kurangnya pengendalian diri masing-masing pasangan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Sebelum menikah mungkin segalanya tampak indah di depan mata. Satu, dua, tiga bulan pertama semuanya bak di syurga dunia, tapi ketika usia pernikahan memasuki bulan keempat mulailah masalah bermunculan. Disini kita harus mampu mengendalikan diri kita. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri diuji oleh Allah. Sikap yang tepat dalam menghadapi dan mengatasi masalah adalah dengan senantiasa berlindung dan memohon pertolongan Allah untuk tetap tenang, diberi kemudahan untuk berpikir jernih dan bertindak tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaklah belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah berpengalaman dalam berrumah tangga, khususnya keluarga-keluarga mukmin, bagaimanakah mereka mengatasi konflik rumaha tangga, bagaimanakah mereka mengendalikan diri ketika menghadapi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Tidak adanya kesadaran sebagai hamba&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Seorang hamba Allah sepanjang hidupnya selalu mengabdi, segala aktifitasnya harus selalu bernilai ibadah di hadapan Allah dalam QS. Adz Dzaariyaat : 55 dikatakan ” dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi (beribadah) kepadaKu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seorang hamba Allah akan meninggalkan semua sikap dan perilakunya yang tidak bernilai ibadah. Semua yang dilakukannya harus untuk dan atas nama Allah, dengan bertitik tolak pada ”Sukakah Allah dengan apa yang akan kulakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;strong&gt;Benarkah Budaya Jawa ”Nrimo” Sesuai Syariat Islam?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perempuan adalah mahluk yang sangat istimewa dengan kehalusan budi pekerti, kelembutan cinta, wajah nan anggun berwibawa, suara yang lirih, langkah yang gemulai dan sikap yang taat, patuh, hormat pada orang tua serta berbakti pada suami, merupakan gambaran perempuan di mata bangsa Jawa dan beberapa bagian di Indonesia. Tabu jika ada seorang perempuan yang lantang, memberontak terhadap suatu keputusan orang tua atau suaminya, melanggar adat katanya. Bahkan ketika seorang suami menyakitinya, menjadikannya isteri simpanan pun tabu baginya untuk menolak apa lagi melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai tersebut semakin menguat dengan datangnya Islam ke Pulau Jawa, walau salah kaprah dalam memahaminya budaya ’nrimo’ sudah menjadi bagian dari kehidupan beragama di Jawa. Suami adalah pimpinan rumah tangga sehingga apa yang dikatakannya mutlak harus ditaati ’pamali’ jika membantah atau menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya perintah taat dalam Islam tidak demikian, selalu diikuti kata ”selama pimpinan (baik kepala rumah tangga, pemimpin masyarakat dan pimpinan negara) tersebut tunduk dan taat kepada Allah dan RasulNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketaatan kepada ulil amri merupakan ketaatan bersyarat yakni taat manakala ulil amri tersebut berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, apalagi ketaatan terhadap seorang suami. Taat dan patuh kepada suami adalah semata-mata hanya karena Allah telah memerintahkannya, sehingga semua yang dilakukan suami atau isteri akan bernilai ibadah manakala ia melakukannya atas nama Allah SWT, mencintai suami atau isteri merupakan bentuk kecintaan terhadap Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala seorang pimpinan berbuat menyimpang dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah maka ketaatan tersebut menjadi batal adanya. Dalam berrumah tangga jika suami berbuat salah maka isteri wajib mengingatkannya, mengajaknya kembali ke jalan yang benar, tetapi jika berbagai cara telah dilakukan untuk mengingatkan suami maka suami tersebut tidak wajib untuk ditaati, sehingga ’nrimo’ nya Jawa tidak berlaku. Dalam hal ini manakala suami menyimpang dari ketentuan Allah SWT maka isteri tampil bak seorang ’Srikandi’ di medan perang gigih berjuang melemahkan nafsu syetan yang ada dalam diri suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah disebutkan di atas QS At Taubah : 71 "&lt;em&gt;Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&lt;/em&gt;". (QS At-Taubah: 71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami isteri harus merupakan penolong menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada hal yang munkar, sehingga ketika percekcokan suami isteri karena salah satunya menyimpang dari ketentuan Allah, maka pasangannya mengingatkan dan meluruskannya, sehingga percekcokan tersebut akan bernilai ibadah. Percekcokan inilah yang dibenarkan oleh Allah SWT dan bahkan dianjurkan, seperti dalam hadits Bukhori Muslim&lt;br /&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;&lt;em&gt;Jika melihat kemunkaran cegahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu cegah dengan lisanmu dan jika tidak mampu cukuplah dengan hati maka itulah selemah-lemahnya iman”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;Suami dan Isteri Sebagai Partner&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era globalisasi informasi telah mengubah pandangan tentang wanita dan isteri, posisi wanita bukan berada di bawah telunjuk pria atau kaum suami tetapi memiliki kedudukan yang sama bahkan lebih tinggi. Fenomena pandangan tentang wanita ’mampu mengerjakan semua pekerjaan seperti halnya pria’ telah menyeret wanita meniggalkan fitrahnya,banyak ditemukan keputusan dan pengelolaan rumah tangga mutlak di tangan isteri, sehingga suami kehilangan wibawa dan pengaruhnya dalam memimpin rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam dien yang menjunjung tinggi wanita, dalam Islam wanita adalah partner dalam menjalani biduk rumah tangga. Wanita dan pria sama-sama sebagai subyek bukan obyek. Namun tetap pria dengan berbagai kelebihan yang Allah berikan ia sebagai pemimpin dalam berrumah tangga. Isteri dalam hal ini sebagai partner, sebagai wakil di rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika fitrah yang Allah tetapkan ini dilanggar maka lihatlah kesudahan orang-orang yang tidak mentaati ketetapan Allah SWT, malapetaka dan kehancuran yang akan didapat., serta jauh dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalankan peran sebagai subyek dalam rumah tangga, berarti isteri memiliki kewajiban untuk menolong, meluruskan suami ketika suami berbuat menyalahi aturan Allah SWT, sudah barang tentu sebaliknya jika isteri menyimpang dari jalan Allah SWT maka suami berkewajiban mendidik dan mengarahkannya ke jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam menjalankan perannya baik suami atau isteri tidak mau mendengarkan tausyiah kita maka percekcokan akan terjadi, namun percekcokan ini akan menjadi ibadah di hadapan Allah, sehingga tidak perlu khawatir selama kita benar sesuai dengan ketetapan Allah janganlah takut atau merasa bersalah pada saat kita harus adu mulut atau mungkin adu otot dengan pasangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas maka sebaiknya calon isteri atau suami sebelum memasuki jenjang pernikahan, sempurnakanlah ilmu dan pengetahuan tentang berrumah tangga sesuai tuntunan Rasulullah SAW .Melalui tahapan seperti di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Ta’aruf&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;” &lt;em&gt;Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal&lt;/em&gt;.” (QS.Al Hujurat : 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ta’aruf tidak identik dengan pacaran, ta’aruf artinya saling mengenali diri masing- masing. Proses ta’aruf sebelum menikah hanya dibolehkan jika sesuai syariat yang telah Allah tetapkan, bukan liar dan tidak terkontrol. Ta’aruf yang dibenarkan memiliki rambu-rambu sebagai berikut :&lt;br /&gt;- bertujuan mengenali pasangan untuk menuju jenjang pernikahan (bukan untuk eksploitasi hawa nafsu)&lt;br /&gt;- tidak berduaan, harus ada muhrim dari pihak calon mempelai perempuan&lt;br /&gt;- pembicaraan tidak mengarah pada hal-hal yang menimbulkan birahi&lt;br /&gt;- saling menyesuaikan diri satu sama lain&lt;br /&gt;Dalam ta’aruf ini hendaknya masing-masing pasangan saling bertanya mengenai :&lt;br /&gt;- Apa yang menjadi tujuan dan hidup pasangannya?&lt;br /&gt;- Apa saja yang disukai?&lt;br /&gt;- Apa yang dibenci?&lt;br /&gt;- Apa saja yang membuatnya kecewa?&lt;br /&gt;- Apa saja yang membuatnya marah ?&lt;br /&gt;- Apa cita-citanya?&lt;br /&gt;- Apa tujuan menikah?&lt;br /&gt;- Bagaimana cara mengatasi masalah selama ini?&lt;br /&gt;- Dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Sehingga jika masing-masing pasangan mengenai kebiasaan dan sifat calon istri atau suaminya, ia memiliki bahan untuk saling menyesuaikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Tafahum&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Tafahum adalah saling memahami, setelah masing-masing pasangan saling mengenal maka tahapan selanjutnya adalah saling paham, mengerti dan menyesuaikan diri kebiasaan masing-masing, sehingga semua masalah dihadapi dengan tenang karena masing-masing mengetahui cara pandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Ta’awun&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;"&lt;em&gt;Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&lt;/em&gt;". (QS At-Taubah: 71)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ta’awun berarti saling menolong, seperti ayat di atas bahwa suami/isteri adalah penolong bagi pasangannya, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kebaikan dengan penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Takaful&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Takaful artinya penyeimbang, pasangan suami isteri harus menjadi penyeimbang dari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kekurangan yang dimiliki isteri hendaknya dilengkapi oleh kelebihan yang dimiliki suami begitupun sebaliknya, sehingga sama-sama berproses untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan untuk menjadi hamba allah yang berprestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-114533085943573139?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/114533085943573139/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=114533085943573139&amp;isPopup=true' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/114533085943573139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/114533085943573139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/04/percekcokan-dalam-rumah-tangga.html' title='Percekcokan Dalam Rumah Tangga Bernilai Ibadah ? Benarkah ?'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21239630.post-113773350365670871</id><published>2006-01-19T20:56:00.000-08:00</published><updated>2006-01-19T21:05:03.663-08:00</updated><title type='text'>Selamat Datang........</title><content type='html'>Semoga...blog ini menjadi ajang silaturrahiim diantara muslim Indonesia di dunia. Blog tempat berbagi pengalaman yang menyakitkan, menyenangkan, menyedihkan, mengecewakan..sehingga bisa menjadi cermin bagi yang lainnya....amiiin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21239630-113773350365670871?l=konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/feeds/113773350365670871/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21239630&amp;postID=113773350365670871&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/113773350365670871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21239630/posts/default/113773350365670871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com/2006/01/selamat-datang.html' title='Selamat Datang........'/><author><name>Konsultasi Keluarga Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09111633035356589073</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
